Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesaksian. Tampilkan semua postingan

01 Desember 2009

Kisah - Rahasia Marty

Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa Natal adalah saat ketika hal-hal yang aneh dan menyenangkan terjadi. Orang-orang bijak datang sambil membawa persembahan yang banyak, binatang-binatang dalam kandang berbincang-bincang pada tengah malam, dan bintang Tuhan yang megah memancar kepada kita bagaikan seorang bayi. Bagi saya, Natal merupakan momen yang penuh pesona. Hal itu pulalah yang saya rasakan ketika anak saya, Marty, berusia 8 tahun.

Pada saat itu, saya dan anak-anak pindah ke sebuah trailer (rumah mobil) pada sebuah hutan di luar Redmond, Washington. Liburan semakin dekat dan semangat kami begitu menggebu-gebu. Tidak ada sesuatu yang dapat mengganggu suasana hati kami, sekalipun hujan pada musim dingin menyiram rumah kami dan membuat lantai menjadi berlumpur.

Selama bulan Desember tersebut, Marty adalah anak yang paling bersemangat dan sibuk dalam keluarga kami. Ia adalah anak bungsu, seorang anak laki-laki yang periang, berambut pirang, dan senang bermain. Ia memiliki kebiasaan memandang orang yang sedang berbicara kepadanya sambil memiringkan kepalanya sedikit. Alasannya adalah telinga kiri Marty tuli.

Tetapi, ia tidak pernah bersungut-sungut karena kekurangannya tersebut. Selama beberapa minggu, saya memerhatikan Marty. Saya tahu bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Saya tahu betapa giatnya ia merapikan tempat tidur, membuang sampah, dengan teliti menyiapkan meja makan, serta membantu Rick dan Pam menyiapkan makan malam sebelum saya pulang dari kerja. Saya melihat bagaimana ia secara diam-diam menyisihkan uang sakunya dan menyimpannya, tidak menggunakan 1 sen pun. Saya tidak tahu apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan, tetapi saya rasa hal itu ada hubungannya dengan Kenny.

Kenny adalah teman Marty. Sejak mereka berkenalan pada musim semi, mereka tak terpisahkan. Jika Anda menemukan Kenny, Anda akan menemukan Marty, dan begitu pula sebaliknya. Dunia mereka berada di padang rumput yang dibelah oleh sungai kecil. Di tempat itu, mereka dapat menangkap kodok dan ular, mencari mata anak panah atau harta terpendam, atau menghabiskan sepanjang siang untuk memberikan kacang kepada bajing. Keluarga kami berada dalam masa-masa sulit, sehingga kami harus berhemat. Syukurlah, saya masih memiliki pekerjaan sebagai pembungkus daging dan juga keuletan, sehingga segala kebutuhan kami masih tercukupi. Tetapi, tidak demikian halnya dengan keluarga Kenny. Mereka sangat miskin. Ibunya berjuang untuk menghidupi kedua anaknya. Mereka adalah keluarga yang baik dan utuh, tetapi ibu Kenny adalah seorang yang angkuh dan memiliki peraturan-peraturan tegas yang tidak bisa diganggu gugat. Yang kami lakukan setiap tahun adalah mempersiapkan Natal sehingga menjadi pesta yang menyenangkan dengan membuat kado-kado Natal dan menghias seisi rumah kami. Adakalanya, Marty dan Kenny harus duduk berjam-jam untuk membantu membuat contong permen atau hiasan untuk pohon Natal. Tetapi, dengan satu bisikan dari Marty atau Kenny, mereka berdua bisa tiba-tiba menghilang, merunduk perlahan di bawah pagar listrik menuju padang rumput yang memisahkan rumah kami dengan rumah Kenny.

Pada suatu malam, beberapa hari sebelum Natal, ketika tangan saya penuh dengan adonan "peppernodder", membentuk kue-kue Danish yang ditaburi kayu manis dalam jumlah banyak, Marty datang kepada saya dan berbicara dengan nada bangga, "Ibu, aku telah membelikan hadiah untuk Kenny. Ibu mau lihat?" Jadi ternyata hal ini yang selama ini ia persiapkan. "Kompas ini adalah benda yang sudah lama ia dambakan,
Bu." Setelah secara perlahan mengelap tangannya, Marty mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan membuka tutup kotak tersebut. Saya terpana pada kompas saku yang telah dibeli anak saya menggunakan semua tabungan dari uang sakunya. "Ini adalah hadiah yang sangat indah, Marty," ucap saya. Tapi saat saya berbicara, sebuah pikiran datang mengganggu. Saya tahu bagaimana perasaan ibu Kenny tentang kekurangan mereka. Mereka tidak mampu bertukar hadiah antaranggota keluarga, apalagi memberikan hadiah kepada orang lain. Saya yakin ibu Kenny tidak akan membiarkan anaknya menerima sesuatu yang tidak dapat ia balas. Secara perlahan saya mengutarakan masalah tersebut kepada Marty. Ia mengerti maksud saya. "Aku tahu, Bu, aku tahu ... tapi, bagaimana jika ini menjadi sebuah rahasia? Bagaimana jika mereka tidak pernah tahu siapa yang memberikan hadiah ini?" Saya tidak tahu harus menjawab apa.

Sehari sebelum Natal turun hujan, cuaca menjadi dingin dan mendung. Saya dan ketiga anak saya saling mengawasi; sibuk memberi sentuhan akhir sembari menyembunyikan kado-kado rahasia dan bersiap-siap jika ada keluarga atau teman yang datang berkunjung. Malam pun tiba. Hujan masih tetap turun. Saya memandang keluar dengan perasaan sedih. Hujan benar-benar mengguyur malam Natal. Bagaimana para orang bijak bisa datang pada malam seperti ini? Saya meragukannya. Sepertinya saya beranggapan bahwa hal-hal yang aneh dan menyenangkan hanya terjadi pada malam yang cerah dan terang, ketika kita dapat memandang bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Saya pun menyingkir dari jendela.

Dan, saat memeriksa daging dan roti yang sedang dihangatkan di oven, saya melihat Marty keluar. Ia mengenakan jas hujan yang menutupi piyamanya, dan ia membawa sebuah kotak yang telah dibungkus dengan indah. Ia berjalan melalui rumput yang basah, merunduk di bawah pagar listrik, dan berjalan terus menuju rumah Kenny. Ia berjalan berjinjit karena sepatunya basah. Ia meletakkan hadiah yang telah ia siapkan di depan pintu rumah Kenny, kemudian ia mengambil napas yang dalam dan memencet bel dengan keras.

Dengan cepat, Marty berbalik dan berlari agar tidak ketahuan. Lalu, tiba-tiba, ia menabrak pagar listrik. Kejutan listrik membuatnya terhuyung-huyung. Ia terjerembab di tanah yang basah. Tubuhnya bergetar dan ia pun terengah-engah mengambil napas. Kemudian, perlahan-lahan, ia berusaha berjalan kembali ke rumah. "Marty!", saya menangis saat melihatnya masuk. "Apa yang terjadi?" Bibir bawahnya bergetar, matanya basah. "Aku lupa kalau ada pagar. Aku menabraknya!" Saya memeluk tubuhnya yang penuh lumpur. Ia masih linglung dan ada tanda luka berwarna merah yang mulai melepuh di wajahnya, dari mulut sampai telinga. Saya langsung merawat wajah Marty dan memberikan segelas cokelat hangat untuk menenangkannya. Semangat Marty langsung kembali. Saya pun menemaninya tidur. Tepat sebelum tertidur, ia memandang saya sambil berkata, "Ibu, Kenny tidak melihatku. Aku yakin ia tidak melihatku."

Pada malam Natal itu, saya tidur dengan perasaan tidak senang dan bingung. Mengapa hal yang menyedihkan seperti ini justru terjadi pada seorang anak yang sedang melakukan apa yang Tuhan ingin kita semua lakukan, memberi kepada orang lain, dan merahasiakan perbuatan tersebut. Saya tidak dapat tidur pulas malam itu. Dari dalam lubuk hati yang terdalam, saya merasa kecewa karena di malam Natal tidak terjadi sesuatu yang indah dan misterius, ini hanyalah salah satu malam biasa yang penuh dengan masalah. Tetapi ternyata saya salah. Pada pagi hari ketika hujan berhenti dan matahari bersinar dengan cerahnya. Memar di wajah Marty masih berwarna merah, tetapi saya dapat melihat bahwa lukanya tidak serius. Kami pun membuka kado-kado dan bersukaria, sampai tiba-tiba Kenny mengetuk pintu, dengan mata berbinar-binar ia memperlihatkan kompas barunya kepada Marty dan menceritakan kejutan misterius yang ia alami tadi malam. Kenny sama sekali tidak curiga kepada Marty, dan saat keduanya
berbincang-bincang, Marty terus tersenyum.

Kemudian saya memerhatikan bahwa saat keduanya saling membandingkan pengalaman Natal yang mereka alami, menganggukkan kepala, dan saling berbincang-bincang, Marty tidak memiringkan kepalanya saat Kenny berbicara. Seakan-akan Marty mampu mendengar menggunakan telinga tulinya. Beberapa minggu kemudian, saya menerima laporan dari dokter sekolah, memastikan sesuatu yang Marty dan saya sudah tahu: Pendengaran Marty telah pulih dan bisa mendengar dari kedua telinganya! Bagaimana Marty memperoleh pendengarannya kembali, masih merupakan misteri. Para dokter curiga bahwa ini ada hubungannya dengan kejutan listrik dari pagar yang ia tabrak. Mungkin benar demikian. Apa pun alasannya, saya bersyukur kepada Tuhan atas timbal balik yang terjadi pada malam Natal tersebut. Jadi, Anda dapat melihat bahwa hal-hal yang aneh dan indah masih terjadi pada malam kelahiran Tuhan. Dan, setiap orang masih dapat mengikuti sebuah bintang besar, sekalipun pada malam yang gelap.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
Judul asli buku: Guideposts for The Spirit: Christmas Stories of Faith
Penulis: Diane Rayner
Penerjemah: Mary N. Rondonuwu
Penerbit: Gospel Press, Batam 2006
Halaman: 4 -- 12

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

28 November 2009

Kisah - The Last Waltz

Namaku Lily, kami tinggal di sebuah kota kecil di Manado. Sejak muda, ibuku senang sekali menari. Untuk itu, saat pernikahannya, Ayah meminta agar tarian terakhir ibu dipersembahkan untuknya. Maka dari itu, lagu pertama pada saat ibu menari adalah "The Last Waltz" dari Engelbert Humperdinck. Dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan, karena beberapa bulan kemudian pada saat melahirkan aku, ibu meninggal dunia.

Daddy -- begitulah aku memanggil Ayah, karena kasihnya kepada ibu, Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Aku dibesarkan oleh Daddy dan Nenek, dan setiap malam Natal, sudah merupakan tradisi bagi Daddy untuk selalu mengalunkan lagu kesayangannya, "The Last Waltz", sambil mengingat ibu. Ketika aku berusia 5 tahun, Daddy mengajari aku menari waltz.

Sejak saat itu, setiap malam Natal, kami menari waltz berdua. Pada hari ulang tahunku yang kedua belas, bertepatan dengan malam tahun baru, Daddy memberikan hadiah kepadaku berupa "long dress" berwarna merah, dan kami berdua menari waltz.

Pada saat itu, aku benar-benar merasa seperti sang putri dalam kisah Cinderella yang sedang menari dengan sang pangeran. Daddy sangat mengasihiku sehingga hampir semua permohonanku selalu dikabulkan olehnya, ia benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untukku.

Namun, setiap hari Daddy harus bekerja seharian di kantor dan ia sangat sibuk, sehingga satu-satunya yang membimbing aku di rumah adalah Nenek. Kurangnya perhatian Daddy membuat aku terjerumus dalam pergaulan bebas, dan akhirnya mulai menggunakan dan kecanduan narkoba. Hampir setiap hari aku pulang malam.

Walaupun demikian, Daddy selalu menunggu kepulanganku dengan sabar. Ia baru bisa tidur setelah aku pulang. Pada malam Natal, aku lebih senang merayakannya di diskotek bersama anak-anak muda lainnya daripada bersama Daddy. Karena itulah Daddy merasa sedih, bahkan untuk pertama kalinya aku melihat Daddy mengeluarkan air mata.

Karena kebutuhanku akan narkoba semakin meningkat, akhirnya aku mencuri uang tabungan Daddy yang seharusnya digunakan untuk masa tuanya, dan melarikan diri ke Jakarta dengan harapan aku bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri di sana.

Pada hari-hari pertamaku di Jakarta, aku menumpang di rumah Om. Ternyata, mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang aku bayangkan, sehingga akhirnya aku terpaksa melamar bekerja di klub malam "Blue Ocean" sebagai pramuria. Kalau dulu aku menari dengan Daddy, di sana aku terpaksa menari dengan pria yang sebaya dengan Daddy, bahkan tak jarang, aku bersedia menemani mereka tidur di hotel.

Setelah sebulan aku berada di Jakarta, aku menerima surat dari Daddy yang dialamatkan ke kosku, rupanya Daddy mengetahui alamat kosku dari Om. Dalam seminggu, aku menerima tiga surat dari Daddy, bahkan terkadang lebih. Tetapi, tak satu pun suratnya kubalas. Jangankan kubalas, kubuka pun tidak. Aku merasa malu dan tidak berani membaca surat dari Daddy. Aku merasa berdosa terhadap Daddy, bahkan aku merasa jijik terhadap diriku sendiri.

Sudah lebih dari 1 tahun aku di Jakarta. Surat-surat yang kukumpulkan ada dalam beberapa dus. Semuanya kusimpan dengan rapi, hanya sayangnya surat-surat itu sekadar menjadi pajangan bagiku, karena aku tidak berani dan tidak mau membukanya. Aku tidak ingin Daddy mengetahui bahwa gadis kesayangannya, gadis yang demikian dibanggakannya, telah menjadi seorang pramuria, bahkan telah menjadi pecandu berat narkoba.

Beberapa hari sebelum Natal, aku menerima surat lagi, ditulis dengan tulisan tangan yang sama, dan bentuk sampul yang sama. Namun, kali ini tidak dikirim melalui pos maupun ke alamat kosku, tetapi dikirim dan dititipkan langsung ke klub malam tempat aku bekerja. Dan, ketika aku menanyakan siapa yang menitipkan surat tersebut, ternyata dari gambaran yang diberikan, orang yang menitipkan surat itu adalah Daddy. Daddy datang sendiri ke Jakarta hanya untuk mengantarkan surat untukku.

Kali ini, aku tidak tahan ingin membukanya. Dengan air mata yang berlinang, aku membaca surat itu, isinya demikian: "Lily, my dearest beloved princess, Daddy sejak lama tahu di mana kamu bekerja, Daddy meminta satu hal: 'Maukah kamu pulang kembali ke rumah untuk menari bersama Daddy?'"

Setelah membaca surat tersebut, aku langsung pulang ke kos untuk membaca ratusan surat lainnya yang belum kubuka, ternyata semua surat Daddy isinya sama. Ia menanyakan hal yang sama: "Maukah Lily menari lagi bersama dengan Daddy?"

Hari itu juga aku langsung mengambil keputusan untuk pulang. Karena menjelang Natal, hampir semua pesawat "fully book", terpaksa aku membeli tiket dengan harga yang jauh lebih mahal, dengan harapan bahwa aku bisa sampai di rumah sebelum malam Natal.

Setibanya di rumah, Daddy langsung memelukku erat, air matanya berlinang deras membasahi kepalaku. Dengan terisak-isak, Daddy bertanya sekali lagi, "Maukah Lily menari lagi bersama Daddy?" Aku mengangguk sambil menjawab, "Ya, tetapi apakah Daddy tahu, bahwa sekarang ini Lily bukanlah princess Daddy yang dulu? Aku adalah seorang pramuria yang kotor, bahkan telah mengidap penyakit AIDS, apakah Daddy tidak malu menerimaku kembali, apakah Daddy tidak takut ketularan penyakitku?"

Daddy tidak berkata sepatah kata pun, ia bergerak, memutar lagu kesayangannya, "The Last Waltz". Kemudian ia memelukku dengan penuh kasih untuk mengajak aku menari seperti hari-hari Natal sebelumnya, kali ini tidak hanya diiringi irama lagu, tetapi juga oleh tetesan air mata yang berderai.

Tanpa kuketahui, sejak aku meninggalkan Daddy, ia sering bergadang menunggu dan mengharapkan kedatanganku kembali. Selain itu, karena duka yang mendalam, Daddy mengidap kanker. Sekitar 2 minggu setelah Natal, Daddy mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.

Rupanya, ia merasakan bahwa kematian telah dekat. Karena itulah, dalam keadaan sakit, ia memaksakan diri pergi ke Jakarta untuk mengantarkan surat kepadaku, hanya untuk mewujudkan keinginannya yang terakhir, agar ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi menari dengan putri kesayangannya. Masih terngiang-ngiang di telingaku lirik lagu kesayangannya, "The Last Waltz A little girl alone and so shy/I had the last waltz with you/Two lonely people together/I fell in love with you/The last waltz should last forever/But the love we had was goin' strong."

Menjelang Natal ini, banyak orang tua mengharapkan dan menunggu kedatangan anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan dan situasi kita saat ini, orang tua kita menerima kita apa adanya, dengan segala kelemahan dan kelebihan kita. Terlebih lagi, mereka tidak mau mengingat kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Hanya satu yang mereka inginkan, yaitu berkumpul bersama putra-putrinya di hari Natal, melihat dan memeluk mereka. Berapa lama lagi kita akan menyuruh mereka menunggu? Datang dan kembalilah sebelum terlambat! Kalau keadaan tidak memungkinkan, teleponlah mereka sambil mengatakan, "Aku mencintaimu, Ayah dan lbu. Selamat Natal."

Renungkanlah: Apabila kita manusia yang penuh dosa bisa mengasihi sedemikian rupa, betapa lebih besarnya kasih Allah, Sang Bapa, yang tanpa dosa dan yang tak pernah memikirkan diri sendiri, kepada kita (Matius 7:11).

Ya, Bayi Suci di Betlehem,
belailah kami dengan tangan-Mu yang mungil,
peluklah kami dengan lengan-Mu yang kecil,
tembuslah hati kami dengan tangis-Mu yang lembut dan manis.
Datanglah kepada kami, tinggallah bersama kami, Ya, Tuhan, Imanuel.
Amin.

-MANG UCUP

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: My Favourite Christmas
Penulis: Mang Ucup
Penerbit: Gloria Cyber Ministries, Yogyakarta 2006
Halaman: 18 -- 25

Baca_selengkapnya......

27 November 2009

Kesaksian - Teror Dalam Rumah

Awal mula dari peristiwa ini adalah adanya hantu yang meneror rumah kami di Sunter. Roh jahat ini sering sekali mengganggu penghuni rumah, terutama kakak dan adik perempuan saya. Kalau malam, kakak saya bisa berteriak-teriak histeris jika sedang diganggu hantu tersebut. Sementara adik perempuan saya pernah melihat kalau setan itu berwujud hanya setengah badan saja. Tidak tahan lagi dengan teror itu, saya (ES) menuruti anjuran teman saya dengan memanggil orang pintar untuk mengusir hantu itu dari rumah. Ia kemudian datang bersama-sama dengan murid-muridnya, melakukan persiapan-persiapan dan ritual-ritual untuk mengusir setan itu pergi. Dan setan itu pun benar-benar pergi, sehingga saya sangat bersyukur padanya. Maka saya pun memberi sejumlah uang padanya sebagai tanda terima kasih, namun saya terkejut karena ia menolak uang itu walaupun saya bersikeras. Hal itu membuat saya simpatik padanya dan menjadi akrab dengannya. Bahkan saya menjadi muridnya; ikut ke mana pun dia pergi.

Seiring berjalannya waktu, saya turut menguasai ilmunya. Kebetulan karena sejak kecil saya juga mendalami ilmu bela diri seperti karate dan kungfu, sehingga tidak terlalu sulit bagi saya untuk menguasainya. Saya sekarang dapat bertarung dengan roh jahat atau pun jin, bahkan dengan jin yang ganas sekalipun. Kalau saya mengurung jin yang ganas dalam botol, maka botol itu akan bergoncang hebat -- seakan mau pecah. Jenis setan ini kita buang ke laut. Namun kalau jin yang tidak ganas, cukup ditutup dengan kain dan dikubur di dalam tanah, kain itu bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang bernapas di dalamnya. Ilmu itu juga bisa dipakai untuk bela diri bila terdesak. Saya bisa menghilang. Tidak sampai di situ saja, dengan ilmu saya, selain mencabut santet, saya juga bisa mengobati hampir berbagai penyakit, sampai kanker sekalipun mudah saya sembuhkan. Sehingga saya banyak dipanggil kemana-mana untuk menyembuhkan orang.

Hal itu terus berlangsung sampai anak kedua kami, David, lahir. Pada usia 1,5 tahun, kami baru menyadari kalau dia tuli. Lalu kami membawanya ke seorang dokter spesialis telinga terbaik, namun sayang menurutnya anak kami tidak bisa sembuh. Yang rusak bukan gendang telinganya, melainkan sarafnya. Tidak puas, saya membawanya ke dokter terbaik di Singapura. Hasil diagnosanya sama, tidak bisa sembuh. Kemudian dari teman-teman, saya mendengar ada sebuah obat yang sangat mujarab milik seorang sakti yang bisa menyembuhkan anak saya, tapi letaknya sangat jauh, yaitu di pedalaman Maluku. Maka saya pun pergi ke sana mencari obat itu, menggunakan pesawat, jalan darat, laut, dan sungai, sampai jauh sekali ke pedalaman untuk mengambil obat itu. Akhirnya dengan susah payah saya mendapatkan juga obat itu. Namun setelah saya pulang dan memberikannya pada anak saya, ternyata anak saya tetap tak bisa sembuh juga.

Hal itu membuat saya putus asa, kenapa penyakit kanker saja dapat saya sembuhkan, tapi penyakit tuli dan bisu anak saya sendiri tidak dapat saya sembuhkan? Saya menjadi gundah, bingung, dan bertanya-tanya. Mengapa ilmu saya tidak mempan, siapa sesungguhnya Tuhan itu? Siapa sesungguhnya Tuhan yang dicari dan disembah banyak agama? Siapa sesungguhnya Tuhan yang berkuasa atas surga? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus mengganggu dan memenuhi pikiran saya dari waktu ke waktu. Sampai suatu waktu saya menemukan Alkitab milik istri saya (istri saya seorang Kristen), saya membaca kitab itu, dan tepat jatuh pada sebuah bacaan di Kitab Ulangan yang berisi: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku."

Saya cukup tergetar membaca ayat ini, namun saya letakan kitab itu dan coba melupakannya walaupun kata-kata dari kitab itu kadang mengganggu saya. Benarkah Tuhan yang sesungguhnya itu adalah pencemburu dan membalaskan kesalahan bapa pada anaknya? Apakah sakit anak saya ini disebabkan karena saya menyembah bukan pada Tuhan yang sesungguhnya? Saya tahu itu kitabnya orang Kristen, sementara saya sangat membenci orang Kristen. Kalau mereka sedang kebaktian, saya sangat kesal dan saya mengusir mereka semua. Setahu saya, semua pendeta Kristen kalau datang pastilah akan meminta-minta uang, membuat orang Kristen sangat jelek di mata saya. Sehingga saya tidak mau menggubris apa pun kata orang Kristen atau pun kitabnya. Tidak lama kemudian, saya kembali menemukan kitab itu, membukanya, dan jatuh pada ayat yang sama. Walau cukup tergetar, saya menaruhnya kembali dan mencoba melupakannya lagi.

Namun kali ketiga, pada lain hari, sesuatu hal membawa saya berusaha mencari kitab itu, dan kembali membuka ayat yang sama. Kali ini peristiwa yang sungguh luar biasa terjadi. Tubuh saya bergetar hebat, saya jatuh, dan jantung saya seperti hendak dirampas keluar dari tubuh saya. Napas saya sangat sesak. Apa yang terjadi? Saya sungguh ketakutan, saya pasti akan mati. Tuhan pemilik kitab ini sedang marah pada saya. Dalam ketakutan dan sekarat, saya lalu berseru: "Tuhan siapakah Engkau ...?" Lalu ada sebuah suara menjawab: "Bukankah selama ini engkau yang bertanya-tanya dan mencari Aku. Akulah yang engkau cari. Akulah Yesus yang memiliki surga!" Saya tersungkur ketakutan sambil berseru, "Ampun Tuhan!" Saya sungguh gemetar, kini saya telah bertemu Tuhan sesungguhnya, yang memiliki surga itu. Saya katakan lagi, "Kini saya tahu Engkau yang punya surga, jadilah Tuhan atas hidup saya!" Saya menangis sejadi-jadinya, sebuah tangisan sukacita dan kasih, sepertinya semua beban saya terlepas.

Setelah itu saya melepaskan semua kepercayaan saya yang lama dan semua ilmu yang saya miliki. Karena sesuai ayat dari kitab yang saya baca, Tuhan yang sesungguhnya adalah Tuhan yang pencemburu, tidak mau diduakan, atau ada hal lain dalam kehidupan orang yang mengikuti-Nya. Saya meminta kepada istri saya dicarikan pendeta untuk membaptis saya. Istri saya sangat terkejut namun juga bersukacita. Maka saya pun dibaptis dan menjadi pengikut Yesus. Setelah itu saya mencoba mempraktikkan ajaran Yesus. Kalau kita mendoakan orang dengan menumpangkan tangan dan mendoakannya dengan sungguh-sungguh, maka orang itu akan sembuh. Maka saya mencoba menumpangkan tangan saya di telinga anak saya, David. Saya mendoakannya dengan sungguh-sungguh, di dalam nama dan kuasa Yesus. Setelah saya selesai mendoakannya, saya mencoba memanggil-manggil namanya.

Yang terjadi kemudian sungguh luar biasa, David kemudian menoleh mengenali suara saya. Sungguh saya sangat bersukacita saat itu, tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan sukacita saya. Tuhan Yesus sang pemilik surga yang saya jumpai itu sungguh berkuasa, pemilik seluruh kuasa di bumi dan di surga. Kini anak saya David dapat bersekolah seperti biasa, dan hidup seperti halnya teman sebayanya. Terpujilah Yesus Kristus Tuhan yang telah menghapus kutuk keturunan, dan menyembuhkan sakit anak saya. Terpujilah nama-Nya. Memang kehidupan di dalam Tuhan Yesus tidak harus selalu penuh dengan hal-hal yang menyenangkan. Namun, melewati banyak prahara dalam hidup saya, Tuhan selalu menolong dan menuntun kita melewati badai yang kita alami. Dan semua itu akan membentuk kita menjadi semakin baik, sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya yang menjadi pewaris surga yang dimiliki-Nya. Ia mengasihi saya dan begitu juga Anda. Terimalah kasih-Nya, dan masuk ke dalam jalan-Nya yang penuh damai dan sukacita.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama majalah: VOICE Indonesia, Edisi 88, Tahun 2007
Penulis: TS
Penerbit: Communication Department -- Full Gospel Business's Men
Fellowship International -- Indonesia: Yayasan Usahawan
Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta 2007
Halaman: 5 -- 7

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

11 November 2009

Kesaksian - Seorang Wanita Kristen Yang Memberikan Sebagian Livernya Untuk Sudara Seimannya

Jeanette Barber, yang telah dengan setia membantu nenek kami yang
sakit, memberitahuku tentang teman anak perempuannya di gereja,
Teresa Israel, yang memberikan sebagian livernya untuk didonorkan
kepada seorang teman. Aku bilang, "Jeanette, cerita soal itu, dong!"
Yang mengejutkan, beberapa hari kemudian Jeanette mengisahkan
peristiwa 4 Agustus 2002 itu kepada jurnalis harian Asheville
Citizen-Times, Susan Reinhardt.

***

Tracy Wilde, yang berusia 20-an tahun, hilang pengharapan. Ibu dua
anak perempuan dari Weaverville ini sekarat karena penyakit liver,
setelah satu dekade mengalami masalah-masalah kesehatan. Selama
hidupnya, dia tidak menginginkan apa-apa kecuali menjadi seorang ibu
yang baik. Setelah 2,5 tahun, dia mendapati bahwa dirinya
membutuhkan liver yang baru. Sejak saat itu, kesehatannya terus
menurun, dan sekarang dia terlalu lemah untuk menggendong
anak-anaknya, memasak untuk mereka, atau berlari bersama mereka di
halaman. Wendy dan Tracy bertemu di gereja pada tahun 1991. Mereka
berteman, tidak lebih dari itu, namun Wendy tidak dapat berhenti
memikirkan anak-anak perempuan yang akan kehilangan ibu mereka.
Teresa Israel juga adalah jemaat gereja itu.

Wendy mendapatkan ide (lebih tepatnya, Tuhan menempatkan keinginan
itu dalam hatinya). Keinginan itu muncul pada suatu hari di musim
panas tahun 2000. Suaminya ingat betul hari saat Wendy menyampaikan
berita yang mengguncangkannya itu: keinginannya untuk membantu
menyelamatkan Tracy. Saat itu dia baru pulang dari bekerja sebagai
staf pembenahan di penjara Craggy, dan mendapati istrinya berdiri di
pintu belakang.

Wendy diam dan menerawang sejenak, menyiapkan diri untuk apa yang
akan dia katakan. Doanya telah terjawab. Bapa Surgawinya telah
memberkatinya dengan keinginan luar biasa yang Wendy rasakan.
"Tuhan," katanya, "ingin aku melakukannya."

Setelah mendapatkan berkat ilahi ini, dia masih membutuhkan satu hal
lagi. Restu dari suaminya. Tidaklah mudah bagi seorang pria untuk
mengatakan, "Ya, Sayang, itu sungguh suatu tindakan yang mulia."
Tidak semudah itu. Keluarga Ballards telah banyak kehilangan di
beberapa tahun terakhir ini, termasuk keguguran tiga bayi dan ibu
Wendy yang meninggal karena kanker.

Akhirnya, kehidupan mereka mulai membaik dan mereka memiliki dua
anak yang cantik, pekerjaan yang baik, dan kesehatan yang baik.
Mereka memiliki rumah yang nyaman di daerah Asheville yang aman, di
mana anak-anak mereka bisa bermain di bak pasir atau ayunan di
halaman belakang.

Tim berdiri di ambang pintu. Istrinya memandang wajahnya dalam-dalam
dengan matanya yang hijau, mata yang sama yang selalu membuatnya
berhenti bernapas, sejak menit pertama dia melihatnya di musim panas
di Pantai Myrtle, S.C., sesaat setelah kelulusan SMA. Sang istri
meletakkan tangannya di perutnya sendiri, di tempat livernya berada.

"Bagaimana menurutmu?" tanyanya.

"Ini bukan keputusanku," kata Ballards, yang menyanyi dalam kwartet
Christian Gospel pada malam hari dan berurusan dengan para pengedar
obat terlarang, pembunuh, pemerkosa, dan pencuri pada siang hari di
penjara. Ada kelembutan dalam dirinya, sifat lembut yang tidak
terduga dari posturnya yang gagah dan kekar. "Kamu harus
mendoakannya. Bila kamu mendoakannya dan merasakan damai sejahtera,
maka aku akan mendukungmu 100%."

Wendy tersenyum dan berekspresi seperti seorang anak yang
menghampiri ibunya, seorang anak yang ingin mainan baru atau minta
izin untuk tidur lebih lama.

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu," kata Wendy dengan suara
berbisik. Meskipun mereka telah menikah selama bertahun-tahun dan
dan menjadi sangat akrab, cinta mereka sangat kuat, rasa menghormati
sangat dalam. Mereka menghidupi janji-janji nikah mereka sesuai
dengan apa yang Alkitab katakan, dan mengambil petunjuk-petunjuk
untuk memertahankan janji-janji tersebut dari setiap halaman
Alkitab. Tanpa suami yang mendukung di belakangnya, dia akan mundur,
ia sadar permintaannya tersebut terlalu berat bagi ayah
anak-anaknya. Bagaimana mereka bisa mengatur semuanya tanpa sang
ibu, haruskah terjadi sesuatu?

Tim tahu benar siapa istrinya. Dia mengetahuinya saat dia bertemu
dengannya pada tahun 1986, gadis pirang mungil dari Chapin, S.C.,
ini adalah wanita yang akan memberikan pakaiannya kepada orang lain.
Atau, seperti yang dia hadapi saat ini, sebagian livernya.

Wendy berdiri di sana, sinar bulan menyinari rambutnya sehingga
seolah-olah ia memakai mahkota. Dia meletakkan tangannya di
perutnya, memandang wajah suaminya dan mengangkat alisnya. Bila
Tuhan mengatakan ya, dan Wendy harus melakukannya, maka suaminya
akan mendukung keputusan yang sangat bermanfaat itu.

Wendy tahu risikonya tidaklah besar. Liver dari seorang yang sudah
meninggal akan memberikan peluang 50-50 bagi seorang wanita yang
sakit. Transplantasi dari donor yang masih hidup dapat menurunkan
risikonya menjadi 25%.

Menurut Wendy, 25% cukup baginya untuk membuatnya mau berada di
bawah terangnya cahaya lampu ruang operasi dan melakukan pembedahan
dari tulang dada ke perut, dan sepanjang sisinya, membuat pembedahan
pada perut seperti simbol Mercedes yang besar. Dia akan melakukan
ini untuk seorang wanita yang bukan saudara kandungnya, bukan ibunya
atau anaknya, atau bahkan sepupunya. Hanya teman. Tapi itu sudah
cukup.

"Dia (wanita sakit itu) dan dua anaknya yang sangat berharga," pikir
Wendy. "Tuhan, mereka harus mengenal ibu mereka. Inilah yang harus
aku lakukan!"

Dengan penuh semangat dan dengan tujuan yang pasti, Wendy tidak
sabar lagi menunggu pagi hari untuk menceritakan hal ini kepada
Tracy.

"Ayo kita beritahu dia," katanya kepada Tim. Dan hari itu juga
mereka menuju ke Weaverville, berbelok ke Marshall, dan sampai di
Shepherd's Branch Road menuju ke bukit di mana terdapat dua rumah
yang jaraknya kira-kira sejauh jarak antartitik tumpu lapangan
kasti. Tracy Wilde dan suaminya tinggal di salah satu rumah itu. Ibu
dan ayahnya di rumah yang satunya.

Wendy melangkah ke beranda depan rumah Johnny dan Linda Brown. Dia
merasakan hatinya berdebar. "Inilah yang harus aku lakukan," dia
mengingatkan dirinya sendiri.

Tracy (kira-kira pada saat itu berusia 26 tahun), seorang wanita
yang lincah dan jujur yang mencintai hidup, namun tidak didukung
oleh kondisi tubuhnya, sedang duduk di ayunan. Dia tampak kurus dan
lemah seperti seorang wanita yang usianya tiga kali dari usianya
sekarang. Tubuhnya penuh dengan luka dan kerusakan organ dalam. Ini
berawal dari radang usus besar yang dideritanya 10 tahun yang lalu
(kira-kira tahun 1990), suatu penyakit yang dia rasa mengganggu
tetapi tidak berbahaya, yang kemudian menjadi semakin parah pada
tahun 1999 hingga menjadi penyakit liver yang mematikan. Dokter
mengatakan bahwa dia perlu transplantasi liver dan dokter di Mayo
mengatakan hal ini mungkin perlu waktu 10 -- 15 tahun untuk
mendapatkannya. Tracy menangis, namun kemudian merasakan suatu pesan
di hatinya, "Kamu akan mendapatkan donor liver sehingga kamu bisa
sehat. Dalam 2 -- 3 tahun, kamu akan mendapatkannya. Bukan 10 -- 15
tahun. Dan kamu akan sehat." Tuhanlah yang mengatakan itu kepadanya.

Sejak tahun 2000 hingga Maret 2002, Wendy tak henti-hentinya
menghubungi koordinator transplantasi di Klinik Mayo untuk
mendonorkan 62% dari livernya (yang akan menjadi pendonor hidup yang
ke-15 pada usia 33 di Mayo), tetapi Mayo menunggu donor dari orang
yang sudah meninggal. Pembedahan itu merupakan sesuatu yang sangat
besar, baik bagi pendonor maupun resipiennya. Sebelum operasi
dilakukan, berat badan Tracy menyusut kira-kira 80 pon dan terlalu
lemah untuk melanjutkan hidup. Tetapi pada 6 Maret 2002, Mayo
menelepon, dan pembedahan dilakukan satu bulan kemudian. Hanya 25%
peluang keberhasilannya. Tetapi tangan Tuhan turut campur; dan lima
bulan setelah operasi, keduanya sehat. Anak-anak Tracy mendapatkan
ibu mereka kembali dan dua wanita itu menjadi sahabat. Jeanette
mengatakan bahwa dia, dirinya sendiri, tahu setiap detailnya, dan
kesaksian mukjizat kesehatan ini penuh dengan detail inspiratif yang
bahkan tidak ditulis di koran.

***

Siapa pun yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat adalah
saudara seiman dan Alkitab jelas mengatakan suapaya kita saling
memerhatikan. Tetapi banyak dari "panggilan" Allah itu memerlukan
kekuatan yang dahsyat untuk bisa memenuhinya. Kebanyakan membutuhkan
lebih dari sekadar keinginan untuk tahu meskipun Tuhan sudah
melangkah dan menggunakan orang-orang yang ada dan keadaan untuk
menciptakan suatu mukjizat, seperti kisah Wendy dan Tracy. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:
Nama situs: THE TRUTH...what is it?
Judul asli artikel: Wendy Ballard, Christian Lady Gives Part of
Her Liver to a Sister Christian
Penulis: Tidak dicantumkan
Alamat URL: http://poptop.hypermart.net/testwb.html

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

Kisah - Orang yang paling saya benci di dunia

Pada saat kuliah, saya tinggal di rumah seorang perwira polisi. Dia adalah orang yang keras dan kasar; bukan tipe orang yang menyenangkan. Anda pasti akan memilih menjauh darinya daripada berada di dekatnya. Setelah bertahun-tahun kemudian, kami bertemu lagi. Kali ini dia adalah orang yang benar-benar berbeda. Ia menjadi begitu baik dan ramah, orang yang sangat menyenangkan untuk kita bergaul. Saya bertanya padanya, apa yang membuat ia berubah begitu drastis dan luar biasa seperti ini? Ia berkata telah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Hidupnya sungguh berubah drastis, bukan saja dalam karakter, tapi juga kariernya dalam kepolisian. Selama ini pangkatnya tertingginya hanya sersan. Namun setelah menerima Yesus, kariernya melesat dalam waktu singkat, pangkatnya menjadi Inspektur Kepala. Yang mana hal itu adalah hal yang sangat sulit di negara yang mayoritas masyarakatnya non-Kristen.

Namun, perubahan itu tidak lantas membuat saya menjadi senang bergaul dengannya. Sebaliknya, saya semakin menjauhinya. Karena ada dua macam orang yang saya paling benci di dunia ini, yang pertama adalah agen asuransi dan kedua adalah seorang Kristen yang sejati. Mengapa? Karena mereka adalah orang yang pantang menyerah dalam
mengganggu ketenangan hidup orang lain.

Demikianlah pandangan saya tentang orang Kristen saat itu. Dan benar juga, ia tidak pernah menyerah, perwira polisi itu terus datang pada saya, tapi saya tidak menghiraukan atau menggubrisnya. Ia bahkan berdoa agar kami dapat memiliki anak lagi, dan benar juga doanya, istri saya hamil kembali. Saat kehamilannya memasuki usia 6 bulan, ada sebuah masalah terjadi dan dokter berkata kami harus merelakan anak itu. Bila tidak, nyawa ibunya yang dipertaruhkan. Istri saya kemudian berseru kepada Yesus untuk menolongnya. Di rumah sakit itu Yesus datang dan menjumpainya dan istri saya pun menerima Yesus dalam hidupnya. Yang terjadi kemudian anak saya yang terakhir dapat lahir dengan selamat dan sehat.

Istri saya mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus pada tahun 1989. Setiap akhir pekan, dia membawa dua anak perempuan saya ke gereja untuk beribadah. Sebagai seorang usahawan, saya tidak pernah masuk ke gereja, saya hanya mengantar mereka sampai depan gereja dan kemudian meneruskan kesibukan saya. Sejak dia hidup dalam Yesus, saya melihat istri saya begitu berubah. Ia menjadi penuh kebaikan dan kasih, ia bahkan mengasihi saya lebih lagi. Saat itu usaha kami bertumbuh menjadi lebih besar dan lebih besar lagi, sehingga permasalahan yang datang juga lebih besar dan rumit. Hal itu membuat saya tidak bisa tidur tiap malam, karena begitu banyak persoalan yang harus saya pikirkan. Tapi saya melihat istri saya tidur dengan tenang damai, padahal dia adalah partner usaha saya, dia yang memegang keuangan dalam perusahaan kami. Bukankah kita menghadapi permasalahan dan pemikiran yang sama mengenai perusahaan, tapi mengapa ia bisa tidur setenang itu. Saya bertanya padanya, "Mengapa engkau bisa setenang dan sedamai itu? Ia menjawab, "Terimalah Yesus dalam hatimu, maka akan ada damai di hatimu."

Namun hal itu tidak membuat saya berubah. Entah mengapa saya menjadi membencinya, padahal tidak ada yang salah pada dirinya. Mungkin kemarahan saya berdasarkan kecemburuan yang tidak saya sadari, kecemburuan akan ketenangan, kedamaian, sukacita, dan kasih yang dimilikinya, sementara saya tidak memilikinya. Setiap hari saya berubah menjadi kasar padanya. Setiap dia akan pergi ke gereja, saya mengintimidasinya, mencari-cari keributan, dan mengacam untuk menceraikannya bila ia tetap seperti itu. Tapi ia bergeming, ia tetap tenang dalam menghadapi saya dan tetap mengasihi saya. Tahun 1993, saya mendapatkan begitu banyak masalah yang tidak dapat saya selesaikan, masalah itu begitu menumpuk, membuat saya begitu galau. Saya butuh kedamaian, saya butuh pemecahan atas masalah-masalah saya. Jadi suatu hari saya menemani istri saya ke gereja untuk pertama kalinya. Dan di situlah saya menemukan apa yang saya cari-cari selama ini -- kedamaian, ketenangan, sukacita, dan kasih.

Saya pun luluh. Saat itu saya menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dalam hidup saya. Sejak itu hidup saya sungguh berubah drastis. Saya adalah sebuah ciptaan yang baru, Dia memberikan saya hidup yang baru. Tuhan mengubah cara pandang dan cara berpikir saya saat saya menekuni firman-Nya setiap hari. Dan luar biasanya, setiap doa saya pasti dikabulkan atau dijawab oleh Tuhan. Seperti saat-saat sulit dalam keuangan, dan hal-hal ketika saya butuh campur tangan Tuhan. Hal itu membuat saya semakin percaya kalau saya sedang menyembah Tuhan yang hidup, tidak ada keraguan terhadap-Nya. Hal itu berdampak dalam hidup saya sehari-hari. Saya menjadi memiliki kepercayaan diri yang tinggi dalam mengerjakan hal-hal yang sulit dan dihindari orang. Tapi Tuhan membuat saya teguh dan kuat menghadapi bagaimanapun tantangannya. Membuat saya hidup berkemenangan melewati saat sesulit apa pun.

Seperti contohnya belum lama ini saya mengalami kesulitan finansial dengan berutang pada bank dalam jumlah yang sangat besar. Saya harus menjual properti saya untuk bisa melunasi hutang tersebut. Tapi menjual properti tidak semudah membalikkan tangan, sangat sulit menemukan pembeli dengan harga yang pas, semua pembeli menawar dengan harga yang sangat jauh di bawah normal, sehingga walaupun properti terjual, nilainya tidak bisa untuk membayar utang pada bank. Untuk menanti pembeli yang tepat butuh waktu lama, sementara utang harus segera dibayarkan. Saya berdoa meminta petunjuk Tuhan untuk dapat melalui krisis ini. Dan Tuhan memberikan jawaban. Ia
memberikan strategi yang rinci bagaimana saya bisa keluar dari krisis ini, bahkan Tuhan menunjukkan orang yang mau membeli properti saya dengan harga yang pas. Sungguh luar biasa Tuhan itu! Di dalam Yesus ada jaminan keselamatan, jaminan doa yang dijawab, dan jaminan damai sejahtera. Tuhan telah memberkati saya dengan banyak hal, Dia juga rindu untuk memakai Anda dan memberkati Anda.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama majalah: VOICE Indonesia, Edisi 95, Tahun 2008
Penulis: LM
Penerbit: Communication Department -- Full Gospel Business's Men
Fellowship International -- Indonesia: Yayasan Usahawan
Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta
Halaman: 21 -- 24

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

03 November 2009

Kesaksian - Selalu Ada Jalan Keluar

Sebagai keluarga Kristen, saya (BN) beruntung memunyai seorang oma yang takut akan Tuhan. Oma selalu mendorong cucu-cucunya untuk taat berdoa, membaca firman Tuhan, dan sering memeriksa apakah kami sudah melakukannya pada malam hari sebelum kami tidur. Saat liburan, kami selalu bermain sampai larut malam. Biasanya kami cepat-cepat berdoa dan membaca Alkitab sebelum bermain agar saat ditanya Oma, kami dapat menjawab "sudah" dan boleh langsung tidur. Sejak kecil, kami diajarkan untuk rajin memberi persembahan di gereja. Untuk itu, Oma selalu menyiapkan uang yang masih baru. "Memberi persembahan kepada Tuhan haruslah yang terbaik," katanya.

Mama, yang sejak muda menjadi guru sekolah minggu, selalu mendorong kami untuk melayani Tuhan. Bahkan di dalam doanya, ia selalu memohon agar semua anak-anaknya: saya, Niko (kakak), Kristin (adik) menjadi pendeta agar bisa membimbing banyak orang hidup dalam keselamatan, pengharapan, dan kebahagiaan di dalam Tuhan Yesus -- Juru Selamat dan Raja Damai itu. Hal itu membuat saya percaya bahwa doa yang sungguh-sungguh dari seorang ibu pastilah didengar Tuhan. Jika orang tua menabur kebenaran dalam hidup ini, keturunannya juga pasti dipelihara dalam berkat Tuhan. Papa adalah seorang yang jujur dan disiplin dalam pekerjaan. Suatu hari di perusahaannya ada pergantian manajemen, sehingga Papa, yang sebelumnya diberi tanggung jawab sebagai pimpinan cabang, diberhentikan dari perusahaan. Hal itu membuat saya dan Niko harus berhenti sekolah di Malang karena tidak ada biaya.

Tahun 1965, kami pindah dari Malang kembali ke Bondowoso, dan bersekolah di sana. Untuk meneruskan biaya sekolah, orang tua kami tidak berputus asa. Mereka berjualan kacang goreng dengan dititipkan pada warung-warung kecil di pinggir jalan. Suatu ketika saya pernah diminta untuk mengantar kacang dagangan itu ke kios-kios rokok dan warung, namun saya menolaknya mentah-mentah karena saya malu. Papa tidak memarahi saya karena hal itu. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sepeda tuanya dan mengantar sendiri kacang-kacang itu. Saya begitu tertempelak akan peristiwa itu, Papa yang dulunya seorang direktur dan biasa naik mobil, kini tanpa malu dengan sepeda tuanya menjajakan kacang goreng demi kelangsungan hidup keluarganya. Peristiwa itu membuat saya belajar dari Papa bagaimana menghadapi perubahan kehidupan dengan penuh ketegaran dan tanggung jawab. Jangan takut menghadapi kesulitan hidup ini, tapi hadapi dengan keberanian dan kesungguhan hati, sebab di dalam Tuhan Yesus selalu ada jalan keluar!

Beberapa waktu berlalu, akhirnya Papa mendapat pekerjaan lagi sebagai pimpinan di suatu perusahaan sehingga kami bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Niko lulus sebagai insinyur pertanian dan saya lulus sebagai insinyur teknik sipil dari Universitas Kristen Petra, Surabaya. Di situ juga saya berjumpa dengan seorang mahasiswi cantik bernama Linda saat Masa Prabakti Mahasiswa (Mapram). Kami menikah pada tahun 1973. Saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang memberikan Linda sebagai istri. Karena Linda, sejak remajanya, juga adalah seorang yang sangat kuat prinsip kekristenannya. Ia berlaku disiplin dan mengajar dengan bijak pada ketiga anak kami, yaitu Olivia, Raymond, dan Herbert untuk hidup mengasihi dan menghormati Tuhan. Saat kami berdua, suami-istri, bersepakat dan berdoa, apapun masalahnya Tuhan selalu memberikan jalan keluar. Tuhan sungguh ajaib dan penuh mukjizat dalam kehidupan keluarga kami.

Pada waktu Raymond anak kami baru berumur 8 bulan, ketika sedang disuapi tiba-tiba bola matanya terbalik, hanya kelihatan putihnya saja dan hampir-hampir tidak bisa bernapas lagi. Kami sangat panik. Kami segera membawanya ke dokter. Melihat kondisi seperti itu, dokter menyarankan agar Raymond langsung dibawa ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit dan diperiksa, dokter memanggil kami berdua dan menjelaskan bahwa Raymond kemungkinan mengalami radang otak. Dan akibat dari radang tersebut dapat mengakibatkan kematian atau akan terjadi gangguan pada otaknya. Kejadian ini membuat kami sedih sekali, kemudian saya katakan kepada Linda bahwa kita terima saja kondisi terburuk yang akan terjadi. Tetapi justru dalam keadaan semacam ini, Linda sangat percaya bahwa Tuhan pasti sembuhkan Raymond. Karena dia percaya bahwa sejak dalam kandungan, kami sudah menyerahkan anak kami sepenuhnya kepada Tuhan untuk melayani-Nya.

Kata-kata yang penuh iman itulah yang menyadarkan saya untuk kami sepakat berdoa. Sambil bergandengan tangan, kami berseru: "Tuhan Yesus, tolong Raymond!" Tanpa perlu menunggu lama, setelah berdoa, terjadi mukjizat itu. Ketika Linda sedang memegang tangan Raymond, tiba-tiba tangannya bisa merespons dan pada waktu yang hampir bersamaan, kami melihat bola matanya kembali normal! Raymond sembuh total! Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus!

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama majalah: VOICE Indonesia, Edisi 95, Tahun 2008
Penulis: Nico Pelamonia/LM
Penerbit: Communication Department -- Full Gospel Business's Men
Fellowship International -- Indonesia: Yayasan Usahawan
Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta
Halaman: 5 -- 7

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

27 Oktober 2009

Kesaksian - 3 Hari 3 Malam Berbanding 2 Jam

Sebuah pesawat terbang kecil berputar-putar mencari landasan di
tengah-tengah rimba belantara Kalimantan. Sesaat kemudian, pesawat
menukik dan mendarat dengan hati-hati. Sang pilot turun, disusul
satu-satunya penumpang -- seorang hamba Allah yang diundang ke
daerah itu untuk menyampaikan Kabar Baik dari surga. Orang ini agak
terkesiap menatap rombongan laki-laki yang rupanya telah berkumpul
menyambut kedatangannya. Ketua rombongan maju memperkenalkan diri,
dan setelah saling berjabat tangan, mereka pun mulai
berbincang-bincang.

"Berapa jumlah penduduk desa Bapak?" tanyanya berbasa-basi kepada
ketua rombongan.

"Ini semua kepala keluarganya Pak Pendeta," jawab lelaki setengah
usia itu sambil menunjuk pada rombongan penyambut.

Termangu-mangu, pak pendeta itu mendengarkan keterangan ini.
Diam-diam dihitungnya orang-orang yang mengelilinginya. Hanya tiga
puluh kepala! Tanpa disadarinya, terlintas dalam ingatannya gedung
pertemuan yang mahaluas di Ottawa, Kanada, yang memuat lima ribu
orang, yang menjadi penuh sesak tatkala mereka berdatangan untuk
mendengarkan firman yang disampaikannya. Itu baru beberapa minggu
yang lalu.

"Mari, Pak," kata ketua rombongan dengan ramah sambil membuat
gerakan tangan, mempersilakannya berjalan. "Baik," katanya.
Tebersit dalam hatinya, sebuah harapan, semoga jarak yang kini
harus ditempuhnya dengan berjalan kaki, tidaklah terlalu jauh.
Ternyata harapannya buyar. Mereka meninggalkan landasan pesawat itu,
dan memasuki hutan rimba. Tak terpikirkan betapa mengerikan rimba
itu! Hujan yang turun telah menciptakan kubangan-kubangan lumpur
yang bercampur daun-daun membusuk. Bau yang menyebar dari
kubangan-kubangan tersebut sungguh memuakkan! Di sana-sini tampak
gundukan kotoran hewan, entah binatang liar ataukah hewan peliharaan
penduduk. Di kiri kanan jalan setapak, tirai tebal daun-daun serta
sulur-suluran membuat orang enggan menyimpang sedikit pun dari jalan
setapak itu.

Jalan ternyata berliku-liku, turun naik bukit pula! Udara panas luar
biasa, sekalipun sinar matahari hampir tak tampak dalam rimba yang
pekat itu. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah mulai memprotes
siksaan yang tak terduga-duga itu. Kepalanya terasa berdenyut-denyut
nyeri. Kaki bagaikan dibebani berkilo-kilo. Rongga dada serasa
hendak meledak, menahan napas yang memburu sehingga menimbulkan
desah yang ramai pula. Matanya mulai berkunang-kunang. Langkahnya
pun sudah terhuyung-huyung dengan kepala merunduk berat. Ia
benar-benar membutuhkan istirahat. Tetapi baru saja ia hendak minta
kepada pengantarnya agar mereka berhenti dulu, telinganya menangkap
suara orang ramai.

Ia mengangkat kepala. Mereka berada di puncak sebuah bukit. Di bawah
terhampar pemandangan yang membuatnya terharu. Beratus-ratus ...
tidak, beribu-ribu orang laki perempuan tampak hiruk-pikuk membuat
barisan panjang menuju sebuah "rumah adat".

"Mereka ... ?" tanyanya heran pada pengantarnya.

"Ya," jawab yang ditanya, "mereka tahu Bapak akan datang. Mereka
datang dari kampung-kampung yang tersebar di wilayah yang luas. Ada
di antara mereka yang berjalan 3 hari 3 malam untuk berbakti
bersama-sama."

3 hari 3 malam! Ia melihat, jam tangannya menunjukkan bahwa mereka
sendiri berjalan tak lebih dari 2 jam.

Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ia membayangkan perasaan yang
mencekam diri Tuhan Yesus tatkala dilihatnya "orang banyak datang
berbondong-bondong". Kehausan jiwa yang mencari kebenaran pada masa
itu, sekarang pun masih begitu menonjol. Dan ini lebih dirasakannya
lagi ketika kebaktian dimulainya. Suara-suara yang menaikkan
puji-pujian dalam aneka nada memang jauh daripada indah, namun mampu
menggugah hatinya kepada suatu kesadaran yang lebih mendalam, bahwa
Kasih Tuhan ada di mana-mana. Jiwa-jiwa di kota gemerlapan atau di
rimba belantara, sama di mata Tuhan. Tetapi kasih kepada Tuhan,
kiranya tiada yang melebihi kasih yang ada di dalam hati manusia
penghuni rimba ini. Murni dan teguh, demikianlah iman yang membuat
mereka itu menjadi "indah".

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Untaian Mutiara
Penulis: Betsy T.
Penerbit: Penerbit Gandum Mas, Malang
Halaman: 116 -- 118

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

17 Oktober 2009

Kesaksian - Buah Hati Itu Telah Tiba

Di panti asuhan saya (Iwan) dididik secara katolik. Meskipun ketatnya peraturan serta ajaran-ajaran agama yang berlaku, tapi hukum rimba juga terjadi. Di sana, anak-anak orang kaya tidak setiap bulannya mendapatkan jatah kiriman makanan dari orang tuanya, akibatnya sering terjadi perebutan dan perkelahian antarpenghuni panti. Oleh karena itu, mereka sering menggunakan jasa "tukang pukul" yang tidak lain adalah teman-teman mereka sendiri yang memiliki keberanian lebih. Karena mendapatkan imbalan yang cukup besar, biasanya tenaga "tukang pukul" itu berasal dari anak-anak dari golongan yang tidak mampu dan saya adalah salah satu tukang pukul yang "disewa" oleh mereka. Saya mengawali profesi sebagai tukang pukul sejak di bangku SD. Setiap hari saya berkelahi dengan teman-teman sendiri demi membela "tuan kecil" saya. Bukannya kapok, lama-kelamaan saya justru semakin menyukai profesi ini, bahkan semakin meningkat menjadi preman hingga saya SMA. Sebagai bekal keberanian, saya aktif mengikuti kegiatan beladiri hingga sabuk hitam. Pada waktu itu tindakan saya sudah sangat meresahkan teman-teman karena hampir tiap hari saya selalu mengompas mereka.

Setelah menikah, saya masih tetap menjalankan pekerjaan ini, bahkan saya mulai mempelajari ilmu kebal tahan pukul dan tahan bacok. Tapi, rupanya ilmu yang saya pelajari itu tidak banyak menolong, suatu ketika badan saya terasa sangat sakit sehabis dipukul oleh orang karena risiko pekerjaan. Tubuh terasa panas dan kepala sangat pusing, sedemikian sakitnya, saya bahkan sampai membentur-benturkan kepala ke tembok. Obat sakit kepala segala merek telah saya minum, namun hasilnya tidak mengurangi rasa sakit itu. Sehabis demam yang tinggi itu, tubuh saya langsung berubah menggigil kedinginan. Belum habis saya kedinginan, kemudian badan saya rasanya seperti digigit ribuat semut. Seorang teman datang kepada saya, "Kamu mau sembuh?" katanya. "Ya, tentu saja. Terserah, kamu mau pakai cara apa saja, aku mau!" Saya menjawab dengan penuh harap. "Baiklah, kalau begitu saya akan ajak pendeta saya kesini supaya kamu didoakan." Dia berkata dengan penuh keyakinan.

Malam harinya kira-kira pukul 10, seorang pendeta bersama istrinya datang ke rumah. Mereka mengajukan banyak pertanyaan termasuk diantaranya apabila saya sembuh nanti apakah saya mau rajin pergi ke gereja. Pertanyaan-pertanyaan itu langsung saya balas, "Sudah Pak, percayalah, saya akan pergi ke gereja setelah saya sembuh nanti. Jangan terlalu banyak ngomong, cepat doakan saya!" Setelah berdoa, pendeta itu pamit pulang sambil berpesan, "Nanti kalau sudah sembuh, bapak harus rajin ikut persekutuan." Kami mengiyakan dan berjanji akan mencari persekutuan yang terdekat. Tak lama setelah itu, saya lalu pergi tidur. Keesokkan paginya, ternyata benar. Saya sudah sembuh! Tapi dasar manusia, setelah sembuh saya melupakan janji saya kepada Tuhan dan pendeta tadi untuk pergi ibadah dan ke persekutuan. Akhirnya kejadian serupa saya alami kembali, saya dipukul lagi oleh orang. Saya kembali ambruk, bahkan melebihi sakit yang dulu. Lalu pendeta itu datang lagi dan menegaskan bahwa saya harus berubah dan taat beribadah. Bukannya tambah sembuh, kondisi saya malah semakin parah. Sambil menahan sakit saya katakan, "Wah, pendeta ini sudah tidak mempan lagi rupanya."

Suatu hari istri dan pembantu saya sedang tidak berada di rumah, rasa sakit saya berada pada puncaknya, sambil bergulingan di lantai dan berteriak kesakitan. Lalu saya melakukan tindakan yang paling memalukan seumur hidup, saya menangis sejadi-jadinya. Itu adalah pertama kalinya saya menangis. Saya berlutut, minta ampun kepada Tuhan dan berjanji untuk bersungguh-sungguh melayani Dia dan rajin beribadah. Seketika itu juga, tubuh saya terasa hangat seperti ada sesuatu yang mengalir ke dalam tubuh saya. Dan mendadak rasa gatal dan nyeri tubuh saya hilang. Saya mulai rajin beribadah dan aktif di gereja, meskipun pada waktu itu rambut saja masih gondrong dan sangar. Saya sempat risih dengan cara-cara ibadah dengan bertepuk tangan dan menari-nari, tapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa dan mulai menikmati suasana itu. Kehidupan saya pun mulai diubahkan.

Selama 6 tahun menikah, kami belum memperoleh keturunan. Lalu saya mengajak istri untuk periksa ke dokter, bahkan saya sempat dioperasi kecil oleh dokter spesialis kandungan. Sudah banyak uang kami habiskan hanya untuk periksa, terapi, dan berbagai macam tes. Meskipun kami dinyatakan sehat, tapi tetap tidak menghasilkan sesuatu yang menyatakan bahwa kami bisa memperoleh keturunan. Suatu ketika, istri dari adik saya melahirkan. Tiba-tiba saya disuruh mengambil bayi mereka di rumah sakit dan meminta kami untuk mengangkatnya menjadi anak karena mereka belum siap untuk mengurus bayi. Dalam keadaan merah, bayi itu langsung saya bawa pulang dan saya cuci sendiri ari-arinya. Senangnya kami pada waktu itu karena telah memunyai momongan, meskipun kami masih tetap berharap bahwa akan memiliki anak kandung sendiri.

Keinginan kami untuk punya anak sendiri telah terkubur lama, lalu kami mengisi hari-hari kami dengan ikut persekutuan dan aktif melayani di gereja. Seorang teman mengajak saya untuk hadir di dalam suatu pertemuan bagi para pengusaha. "Tidak, saya tidak mau datang ke pertemuan itu karena biasanya pengusaha itu sombong-sombong." Saya menolak dengan tegas. Tapi dengan gigihnya dia berusaha meyakinkan saya bahwa mereka semua adalah orang yang baik. Akhirnya saya menyetujui untuk datang ke pertemuan itu. Setiba di sana saya disambut dengan sangat ramah dan mereka kelihatan sangat bersukacita dengan kehadiran saya, suatu hal yang belum pernah saya alami sebelumnya dimana mereka mau menerima saya apa adanya. Semakin betah di pertemuan pengusaha itu lalu saya mengajak istri untuk juga ikut aktif dan bergabung dalam pertemuan "ladies of fellowship".

Tahun 2004, istri saya mengalami bengkak-bengkak pada kakinya, kalaupun ada bengkak di bagian tubuh yang lain tidak akan terlalu kelihatan karena postur tubuhnya yang gemuk. Saya menduga bahwa dia sakit ginjal, lalu saya belikan obat-obatan untuk sakit ginjal karena dia selalu menolak untuk dibawa ke dokter. Karena bengkaknya sepertinya tidak ada perubahan, saya coba panggilkan dukun pijat, siapa tahu dengan di pijat dan urut bengkak pada kakinya akan mengempes, tapi tetap tidak ada hasil, malah katanya perutnya bertambah mules-mules. Beberapa hari kemudian, keponakan kami yang badannya gemuk-gemuk datang dan ikut memijat istri saya, karena pijatnya tidak terasa mereka lalu naik ke atas dan "menginjak-injak" tubuh istri saya supaya lebih mantap. Lama tak ada perubahan dari bengkaknya dan kini ditambah dengan seringnya mulas-mulas, saya mulai khawatir dia terkena lever, lalu dengan bantuan dari keluarga kami memaksa agar dia mau dibawa ke dokter dan dia setuju. Kami bawa dia ke internist, dan menurut hasil pemeriksaan, di dalam perut istri saya ada airnya sekitar 6 liter dan jika tidak ditangani segera akan membahayakan dirinya.

Lalu kami diberi surat pengantar ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih detil termasuk periksa USG. Di laboratorium istri saya menjalani seluruh tes, dan kami dikejutkan dengan pernyataan dokter, "Menurut pemeriksaan alat kami, istri bapak sudah hamil 8 bulan." Hamil? 8 bulan? Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kenapa selama ini kami tidak tahu. Apa karena postur tubuh istri saya yang gemuk sehingga tidak kelihatan bahwa dia sedang hamil. Memang siklus haid istri saya tidak seperti wanita pada umumnya, dia bisa mendapat haid 6 bulan, bahkan setahun sekali. Lagi pula siapa yang menyangka dalam usia kami yang lebih dari 40 tahun kami akan dikarunia seorang anak. Lalu timbul kekhawatiran dari kami mengingat perut istri saya pernah diinjak-injak oleh keponakan-keponakan kami. "Dokter, apakah anak kami akan lahir cacat? Mengingat iseri saya dulu pernah di pijat dengan cara "diinjak-injak" oleh keponakan kami." Saya bertanya kepada dokter itu dengan nada cemas. "Oh, tidak. Tidak masalah. Anak bapak sangat sehat. Bulan depan ibu sudah dapat melahirkan."

Kemudian kami diberi surat pengantar ke rumah sakit bersalin, keesokan paginya kami berangkat ke sana. Pihak rumah sakit menyarankan agar istri saya segera dioperasi minggu depan. Timbul kecurigaan dalam hati saya, kenapa keputusan persalinan itu harus cepat dilaksanakan. "Dok, apakah ada masalah dalam kandungan istri saya, sehingga harus di operasi secepat itu?" Ketakutan saya adalah apakah bayi tersebut akan lahir cacat, lagipula saya mempertimbangkan usia istri saya yang beresiko untuk melahirkan. "Tidak perlu menunggu terlalu lama pak, untuk sesuatu yang bisa kita lakukan sekarang." Dokter itu meyakinkan saya bahwa semuanya akan berjalan baik. Tapi saya percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kami dan seandainya Dia memberikan yang buruk, saya "mengancam" tidak akan bersaksi mengenai kebaikan Tuhan lagi.

Akhirnya anak kami lahir dengan normal. Tapi saya masih merasakan keganjilan karena sejak keluar dari rahim kenapa bayi saya tidak menangis seperti bayi lainnya. Ketakutan kembali menyelimuti saya, dalam kepanikan itu saya berseru dan berdoa kepada Tuhan, supaya anak saya jangan lahir cacat. Selesai berdoa, mujizat segera terjadi. Anak kami akhirnya menangis sangat keras, bahkan paling keras di antara bayi-bayi yang lain. Kami sangat gembira melihatnya dan bersyukur kepada Tuhan. 25 tahun penantian kami, apa yang semula sempat kami abaikan dan tidak kami pikirkan ternyata Tuhan masih mengingatnya dan menyediakannya. Dia setia pada janji di saat kita sungguh-sungguh melayani Dia. (DS/Pet)

Diambil dari:
Judul majalah: VOICE Indonesia, Edisi 86, Tahun 2006
Penulis: DS/Pet
Penerbit: Communication Department -- Full Gospel Business's Men
Fellowship International -- Indonesia: Yayasan Usahawan
Injil Sepenuhnya Internasional (PUISI), Jakarta
Halaman: 23 -- 28

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

14 September 2009

Kesaksian - Bantal yang Berisi Buku (Myanmar, 1819 - 1840)

Selama enam tahun, Adoniram Judson mencoba mengabarkan Injil di Birma. Utusan Injil muda dari Amerika Serikat ini berusaha memberi tahu orang-orang Birma tentang Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi, dan tentang Yesus Kristus, satu-satunya Juru Selamat manusia yang berdosa. Dia juga mencoba berbagai macam cara penginjilan. Dengan susah payah, ia telah menerjemahkan kitab Injil Matius ke dalam bahasa Birma; lalu ia menyuruh agar terjemahannya itu dicetak. Tetapi banyak orang Birma yang masih buta huruf. Dan mereka yang dapat membaca, sering mengejek hasil karya Adoniram Judson itu.

Pdt. Judson juga sudah berusaha meniru metode mengajar yang lazim dipakai oleh guru-guru bangsa Birma sendiri. Ia membangun sebuah pendopo di pinggir jalan untuk dia mengajar, yang dikapur putih bersih agar kelihatan lebih mencolok mata daripada pendopo-pendopo lainnya. Sepanjang hari, Adoniram Judson dengan sabar duduk di depan pendoponya itu dan menyerukan kata-kata ajakan dari kitab Yesaya pasal 55. Namun, kebanyakan orang Birma yang melewati depan pendopo Kristen itu terus saja berjalan. Hanya beberapa orang saja yang cukup berminat sehingga mereka mampir untuk mendengarkan ajaran guru asing itu. Dan kebanyakan pengunjung pendopo itu pun tidak mau kembali lagi untuk yang kedua kalinya.

Pada waktu itu, ada raja baru yang memerintah di Ava, ibu kota Birma; rupanya beliau lebih keras lagi melawan ajaran asing daripada raja yang memerintah sebelumnya. Dengan sedih, Pdt. Judson menutup pendoponya. Ia khawatir kalau-kalau penginjilan secara terbuka akan dibalas dengan tindakan kekerasan terhadap ketiga petobat baru, hasil penginjilannnya selama enam tahun. Pelanggar hukum di Kerajaan Birma pada masa itu bukan hanya dihukum mati saja: boleh jadi ia dihukum mati dengan siksaan yang paling kejam.

Seorang pendeta pengantar Injil muda bernama James Colman datang dari Amerika untuk membantu keluarga Judson. Pada suatu hari tahun 1819, Pdt. Colman mengusulkan agar mereka pergi ke ibu kota untuk menghadap raja baru itu dan meminta izin secara terang-terangan untuk menyebarkan ajaran Kristen di Kerajaan Birma. Kalau akhirnya ditolak, mungkin lebih baik mereka meninggalkan negeri Birma dan pergi ke tempat lain. Meski Adoniram Judson tidak sampai hati memikirkan kemungkinan untuk meninggalkan Birma, namun akhirnya Pdt. Judson setuju dengan usul Pdt. Colman. Mereka menghabiskan waktu 35 hari untuk sampai ke ibu kota Ava.

Setiba di ibu kota Ava, mereka menuju ke istana. Sementara menunggu kedatangan sang raja, Pdt. Judson berunding dengan salah seorang menteri kerajaan. Ia menyodorkan hadiah yang hendak dipersembahkan: sebuah Alkitab bahasa Inggris berukuran besar, dengan sampul keemasan. Ia juga memperlihatkan salah satu surat selebaran berbahasa Birma yang telah dikarangnya, serta sepucuk surat permohonan agar ia diperbolehkan mengajar orang-orang Birma tentang Tuhan Yesus.

Sang raja masuk dengan segala kebesarannya. Ketika sang raja bertanya tentang maksud kedatangan kedua orang asing itu, sang menteri maju dengan bertiarap sampai ia dapat meletakkan persembahan dan permohonan mereka di depan tahta. Sang raja mulai membaca surat selebaran itu: "Tuhan Yang Maha Esa hidup selama-lamanya, dan di samping Dia tidak ada allah lain." Dengan muka yang menunjukkan murka, sang raja membiarkan surat selebaran itu jatuh ke lantai. Sang menteri segera mengantarkan kedua orang asing itu keluar. Kemudian ia pun menjelaskan keputusan sang raja: "Tidak ada jawaban atas permohonanmu itu. Dan mengenai tulisan sucimu, sang raja tidak memerlukannya; bawalah pulang saja."

Dari ibu kota Ava, Adoniram Judson dan James Colman pulang ke kota pelabuhan Yangoon. Mereka telah gagal. Mereka sekeluarga pun berencana bersiap-siap pindah ke tempat lain. Namun yang mengherankan, ketiga orang Kristen Birma itu, yang pada mulanya takut karena menjadi orang Kristen, justru menantang Pdt. Judson agar bersikap lebih berani. Mereka meminta Pdt. Judson tetap tinggal sampai ada sepuluh orang yang percaya. Dalam jangka waktu satu bulan saja, ada sembilan orang Birma lagi yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus!

Maka Judson pun memberanikan diri untuk berjuang terus, sambil menerjemahkan firman Allah ke dalam bahasa Birma. Tugas terjemahan itu sulit sekali! Huruf-huruf bahasa Birma berbeda sama sekali dengan huruf-huruf yang dipakai dalam semua bahasa lainnya. Apalagi tidak ada tanda pemisah antara kata atau kalimat, misalnya huruf besar atau tanda baca. Tidak ada kamus; tidak ada buku pedoman tata bahasa. Di samping semua halangan ini, pada zaman itu tulisan bahasa Birma biasa digores pada daun lontar kering sehingga amat sukar untuk dilihat, apalagi untuk dibaca.

Berita mengenai keberhasilan Adoniram Judson dalam menguasai bahasa Birma itu sampai ke ibu kota. Sang raja pun berminat karena untuk hubungan luar negeri ia sering memerlukan seorang pengalih bahasa. Maka keluarga Judson dipanggil untuk pindah ke Ava. Tetapi Pdt. Judson harus menunggu istrinya kembali dari Amerika; Ibu Judson terpaksa pulang untuk berobat. Sambil menunggu istrinya selama sepuluh bulan di Yangoon itu, Adoniram Judson berhasil menyelesaikan terjemahan seluruh kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Birma.

Sesudah sembuh, Ibu Judson kembali, dan mereka segera pindah ke Ava. Salah seorang anggota jemaat di Yangoon itu ikut serta sebagai pembantu mereka. Ternyata cuaca di ibu kota itu panas dan lembab; ini yang menyebabkan baik Pdt. Judson maupun istrinya sering sakit. Dan yang payah lagi, berkobarlah perang antara Kerajaan Inggris dengan Kerajaan Birma. Adoniram Judson seorang Amerika; ia bukan orang Inggris. Namun, semua orang asing yang berkulit putih itu digiring bersama-sama ke dalam sebuah penjara yang dikhususkan untuk menjalani siksaan dan hukuman mati.

Seandainya Ibu Judson tidak setia menolong suaminya, pasti ia meninggalkannya pada waktu sengsara itu. Tiap hari Ibu Judson datang dengan membawa makanan segar serta air minum yang bersih. Selama beberapa minggu, Ibu Judson tidak sanggup datang sendiri; seorang pembantu menggantikan dia. Lalu ia muncul lagi, dengan membawa serta bayinya yang baru lahir. Tentu Pdt. Judson senang melihat bayinya yang mungil itu serta istrinya yang sudah sehat kembali. Namun, ada hal lain yang sering menyusahkan pikirannya: bagaimana dengan naskah tulisan tangannya itu? Bagaimana dengan satu-satunya salinan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Birma?

Di rumah, naskah itu kurang aman karena rumah keluarga Judson sudah dua kali digeledah tentara kerajaan. Maka Ibu Judson menjahit sebuah bantal yang sengaja dibuat keras dan kumal, agar penjaga penjara tidak mengiranya. Di dalam bantal itulah ia memasukkan naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Birma. Dan selama sebelas bulan, Adoniram Judson tidur dengan kepala bersandarkan bantal yang berisi buku itu. Siang malam ia menderita; namun ia mengucap syukur kepada Tuhan karena naskahnya yang berharga itu masih aman.

Tiba-tiba pada suatu hari semua tahanan disuruh berderet di halaman penjara. Rantai yang berat itu dilepaskan, lalu mereka diikat berdua-dua. Judson mohon dengan sangat agar ia boleh membawa serta bantalnya, sampai-sampai ia menangis dan orang-orang tahanan lainnya mengejek dia. Namun penjaga yang bengis menyobek bantal itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Judson dan para tahanan lainnya dipaksa berbaris sejauh enam belas kilometer di luar kota, di bawah terik matahari. Kaki mereka berdarah; mulut mereka kekeringan. Ada yang tidak tahan dalam perjalanan maut itu; ada yang meninggal sebelum tiba di tempat tujuan; ada juga yang jatuh pingsan di ujung jalan. Namun, Pdt. Judson masih hidup. Ia masih tetap terkurung di dalam penjara di luar kota itu selama tujuh bulan lagi.

Pada suatu hari, ada berita dari sang raja; Ia memerlukan seorang pengalih bahasa yang pandai berbahasa Inggris dan bahasa Birma. Maka Adoniram Judson dibebaskan dari penjara walau masih tetap dijaga dengan ketat. Setibanya di ibu kota, yang pertama-tama ditanyakan Judson ialah mengenai istri dan anaknya. Para penjaga memberitahu bahwa kedua orang itu masih selamat. Pertanyaan Judson yang kedua adalah mengenai bantalnya. Para penjaga tidak tahu dan tidak ambil pusing tentang benda yang mereka anggap kurang berharga itu.

Ternyata Kerajaan Birma tidak kuat menghadapi pasukan perang Kerajaan Inggris. Tentara Birma dipukul kalah. Dalam perundingan perdamaian, jasa Adoniram Judson sebagai pengalih bahasa itu sangat diperlukan. Akhirnya, semua tugas yang dituntut sang raja itu selesai. Pdt. Judson dengan keluarganya boleh kembali ke Yangoon, kota pelabuhan dan tempat tinggal mereka semula. Di sana, mereka kembali menjumpai orang-orang Kristen Birma, yang selama masa perang itu masih setia mengikut Tuhan Yesus.

Salah seorang di antara ketiga petobat yang pertama-tama itu rupanya sangat senang bertemu kembali dengan gurunya. "Wah, kami kira Pendeta sudah meninggal! Lagipula tiada kubur tempat tinggal kami dapat pergi berkabung. Namun, aku masih tetap memelihara bantal itu, tempat kepala Pendeta pernah bersandar."

"Bantal?" tanya Adoniram Judson hampir tidak percaya. "Bantal apa itu?"

"Ya, bantal kecil itu yang dipakai Pendeta waktu di penjara. Untung aku sempat menyelamatkannya dari tempat sampah sebagai kenang-kenangan, pada hari itu ketika Pendeta digiring keluar halaman penjara dalam perjalanan maut."

Dengan tangan gemetar Pdt. Judson menerima kembali bantal yang kotor dan sobek itu. Ia sengaja menyobek tutupnya lagi sehingga rusak sama sekali, dan ... ternyata naskahnya masih utuh! Maka dengan semangat baru, Adoniram Judson mulai mengabarkan "isi bantal" itu kepada orang-orang Birma.

Tidak lama kemudian, istri dan anaknya yang tercinta itu meninggal; namun ia terus berjuang. Ia meneruskan tugas terjemahan firman Tuhan itu. Perkataan Raja Daud dalam Kitab Mazmur yang tengah dialihkannya itu sering menghibur hatinya yang sedang sedih. Bertahun-tahun kemudian, pengabar Injil yang setia itu dikaruniai sebuah keluarga baru. Istri keduanya itu melahirkan beberapa anak; di antara mereka, di kemudian hari ada yang menjadi hamba Tuhan sama seperti ayahnya.

Baru pada tahun 1835, seluruh Alkitab itu selesai diterjemahkannya ke dalam bahasa Birma. Namun, Judson masih belum puas. Selama lima tahun ia mendalami lagi tulisan sastra bahasa Birma, baik prosa maupun puisi. Sering ia meminta pendapat para rekannya, baik utusan Injil maupun orang Kristen Birma. Akhirnya pada tahun 1840, ia merasa puas. Terjemahan Alkitab hasil karyanya yang diterbitkan pada tahun itu hingga kini masih tetap dibaca di gereja-gereja di negeri Myanmar.

Selama bertahun-tahun, Adoniram Judson berjuang mati-matian demi tugas penginjilan dan penerjemahannya itu, suatu gerakan Kristen besar mulai tampak di negeri Birma. Bahkan pada masa hidup Judson, sudah ada ribuan orang Birma yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dan sekarang, lebih dari satu setengah abad kemudian, ada ratusan ribu orang Kristen di negeri Myanmar.

Siapa tahu, mungkin semuanya itu tidak akan terjadi ... seandainya tidak ada seorang ibu Amerika yang pandai menjahit serta seorang bapak bangsa Birma yang setia menyimpan bantal yang berisi buku, sampai saat ia menyerahkan kembali kepada pemiliknya!

Diringkas dari:
Judul buku : Alkitab di Seluruh Dunia: 12 Kisah Nyata Jilid 3
Judul asli buku : Stories of the Book of Books
Penulis : Grace W. McGavran
Penyadur : H.L. Cermat
Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung 1991
Halaman : 22

Untuk membaca keseluruhan kisah ini secara tersambung, silakan buka di:

==> http://misi.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

04 September 2009

Kesaksian - The Passion of Jim Caviezel

Posted by Chris Lase on September 1, 2009 on 2:34pm at
facebook Group: GKPI Citeureup


Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Ini Kesaksiannya,…

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL ” THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?”
Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”.

Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan.. Pertanyaan-pertanya an tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya.

Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting. Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan.

Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak
mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu.

Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.

Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus.
Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm.

Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang bisa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan.

Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!”.
“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ…

Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri. Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”

Baca_selengkapnya......

20 Agustus 2009

Kesaksian - Doa Orang Asing Menyembuhkan Aku

Keseharian Fony sebagai ibu rumah tangga akan segera berakhir. Hal itu berawal dari sakit flu yang dialaminya.

"Tepatnya pada 16 Mei 2007, pagi hari itu istri saya merasakan sakit pada kaki-kakinya," ujar Stevanus membuka kisahnya mengenai kasus penyakit langka yang dialami Fony, istrinya.

Hari itu Fony merintih kesakitan di atas tempat tidur. Fony benar-benar merasa tubuhnya sangat lemah. Rasa sakit yang dialaminya terasa semakin parah. Stevanus sempat bingung dan panik melihat keadaan istrinya.

Melihat keadaan ibunya yang sangat kesakitan, tanpa diketahui oleh ayahnya, Vincent, anak Fony, berlari memanggil Om Ming Tuan, tetangga mereka. Dengan polosnya, Vincent meminta Om Ming Tuan mendoakan ibunya yang tampak sedang sekarat.

Mendengar saran dari tetangganya, Stevanus membawa Fony ke rumah sakit untuk diperiksa. Awalnya, dari hasil pemeriksaan darah di bagian internis, Fonny didiagnosa menderita penyakit kuning. Sewaktu sadar, Fony menyadari bahwa banyak cairan yang keluar dari mulut dan hidungnya. Sedikit salah posisi saat tidur saja dapat membuat Fony muntah sampai akhirnya pingsan sampai keesokan harinya.

Karena sakit yang dialami Fony tidak ditemukan penyebabnya, dokter menyarankan agar Fony dirawat untuk diobservasi. Selama berada di ruang perawatan, Fony merasakan kesakitan yang luar biasa pada kakinya. Mulai dari kaki kanan terus menjalar ke atas. Obat yang diberikan dokter dan perawat untuk menahan rasa nyeri, tidak membuat penyakit Fony semakin baik, tapi malah bertambah parah. Tidak tahan melihat keadaan istrinya, Stevanus berkeras ingin menemui dokter untuk menanyakan kepastian mengenai penyakit istrinya. Dari dokter itulah Stevanus akhirnya mengetahui kalau Fony terkena penyakit GBS, sebuah penyakit langka. Dokter pun menyarankan tindakan operasi secepat mungkin.

Stevanus menantikan dengan cemas waktu pelaksanaan operasi terhadap istrinya. Namun sampai lima hari berlalu, belum ada tindakan apa pun yang dilakukan oleh tim dokter dan penyakit Fony semakin parah. Kondisi kesehatan Fony semakin merosot, tidak ada harapan untuk tertolong.

Dengan harapan yang begitu tipis, Stevanus memindahkan Fony ke rumah sakit lain di Lippo Karawaci untuk mendapatkan penanganan lain yang lebih serius. Dari hasil pemeriksaan, paru-paru Fony telah dipenuhi banyak cairan dahak sampai pada satu kondisi yang membuat Fony tidak dapat bernapas lagi. Bila tidak segera ditolong, kondisi ini dapat menyebabkan kematian karena pasien menderita sesak napas yang parah.

Selama dirawat, Fony banyak melihat orang-orang yang dirawat di sekitarnya meninggal. Sehingga bagi Fony, melihat orang-orang di sekitarnya meninggal adalah suatu hal yang biasa. Saat malam tiba dan Fony melihat ke jendela, Fony seperti melihat bayangan hitam menyerupai persegi panjang berjalan mondar-mandir melewati
pasien-pasien lain di sekitarnya. Silih berganti, pasien-pasien di ICU meninggal dunia. Apakah malaikat maut akan menjemput Fony juga?

Stevanus benar-benar merasakan suatu beban yang sangat berat. Kalut, panik, stres, bingung, dan ketakutan, bercampur aduk menjadi satu. Di kantor, Stevanus tidak dapat bekerja dengan tenang karena Stevanus harus melihat penderitaan yang begitu luar biasa dari istrinya. Jadi kalau Fony sakit, Stevanus pun merasakan suatu kesakitan. Stevanus benar-benar merasa tertekan.

Dalam keadaan yang begitu menghimpit hidupnya, Stevanus menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Suatu hari, Stevanus menelepon satu layanan doa pada sebuah siaran radio dan dia pun didoakan. Pada saat itu, ada seseorang yang juga sedang mendengarkan siaran radio yang sama dan mendengar masalah yang disampaikan Stevanus. Keesokan harinya, orang tersebut mendatangi rumah sakit di mana istri Stevanus dirawat. Orang tersebut memperkenalkan dirinya sebagai Benny. Dia adalah pendengar setia dari layanan doa radio tersebut. Benny juga mengatakan kalau ia biasanya mendoakan orang-orang yang sakit.

Pada waktu Benny datang pertama kali, secara manusia Fony tidak respek akan kehadiran Benny karena penampilannya yang begitu "low profile", tidak menunjukkan seorang hamba Tuhan yang berpenampilan rapi. Saat didoakan pun Fony tidak tahu apa yang sebenarnya sedang Benny doakan.

Meskipun Fony kurang menghargai hamba Tuhan tersebut, tanpa disadarinya pagi itu Tuhan menyatakan kuasanya. Keesokan harinya, Fony merasakan perubahan yang sangat besar. Fony merasa seperti memiliki tubuh yang baru. Ia bisa duduk dan sepertinya tidak merasakan sakit apa pun. Sejak saat itu, Fony merasakan perubahan yang luar biasa. Hanya dalam empat belas hari, Fony sudah diperbolehkan pulang.

Saat ini Fony sudah dapat melakukan pekerjaan rumah tangga dan kembali bercengkerama dengan keluarga.

"Dengan kesembuhan ini, saya merasakan bahwa Yesus itu sangat luar biasa karena saya sudah disembuhkan dengan sempurna. Tuhan mengasihi saya, menyembuhkan saya secara total, dan ini semua karena kebaikan Tuhan," ujar Fony.

"Saya tidak salah memilih Yesus sebagai Tuhan saya. Karena ia telah memberikan kepada saya begitu banyak pertolongan. Tuhanlah yang 'The Best'," ujar Stevanus menambahkan kesaksian istrinya.

Rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan, tapi damai sejahtera yang memberikan hari esok yang penuh harapan. (Kisah ini telah ditayangkan pada 17 Desember 2007 dalam acara Solusi di SCTV.)

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: Jawaban.Com
Judul asli artikel: Doa Orang Asing Sembuhkanku
Penulis: Fony
Alamat URL:
http://jawaban.com/news/spiritual/detail.php?id_news=071219160253


Baca_selengkapnya......

02 Agustus 2009

Kesaksian - Ia akan memampukanku untuk menanggungnya

Rose Allen melompat dari tempat tidurnya dan mengintip ke luar jendela. Di sana, di depan pintunya, berdiri seorang kepala polisi, dua orang petugas polisi, dan segerombolan orang yang sedang membawa obor. Mereka sedang berbicara kepada ayahnya di anak tangga pintu. Ia menatap pada jam di atas rak pada perapian. Pukul 02.00 dini hari.

Ibu dari Rose, Alice Munt, telah terbangun pula oleh gedoran yang keras pada pintu. "Ada apa, Rose?" Ia berbisik.

"Mereka telah datang untuk menangkap kita, Bu," Rose berbisik kembali. Rose dapat mendengar ayahnya, William, membiarkan para pria itu masuk. Kemudian ia mendengar langkah kaki menaiki tangga.

Teman-teman telah memperingatkan mereka akan bahaya dari tidak menghadiri gereja yang resmi. Namun, rasa tanggung jawab terhadap kebenaran jauh lebih kuat daripada rasa takut mereka. Mereka terus melanjutkan untuk berbakti di tempat-tempat rahasia dengan sedikit pria dan wanita yang beriman sama. Kini, pihak berwajib telah datang untuk membawa mereka pergi.

Alice, yang tidak berada dalam kesehatan yang baik, amat terguncang dengan kejutan yang tiba-tiba itu hingga ia merasa akan pingsan. Ia menanyakan kepada kepala polisi apakah putrinya dapat mengambil sedikit air sebelum mereka semuanya pergi menuju ke penjara.

Kepala penjara mengizinkan Rose untuk pergi ke sumur. Ia mengambil sebatang lilin dan sebuah gayung ke sumur dan kembali dengan air. Saat ia kembali menuju ke rumah, si kepala polisi menyongsongnya di pintu dan berkata, "Bujuklah ayah dan ibumu untuk bertindak lebih seperti orang-orang Kristen yang baik dan tidak seperti bidat-bidat. Maka mereka akan segera dibebaskan."

"Tuan," Rose menjawab, "mereka memiliki instruktur yang lebih baik daripada aku karena Roh Kudus mengajar mereka -- Roh yang kuharap, tidak akan mengizinkan mereka untuk sesat."

"Baiklah! Sudah waktunya untuk mengurung bidat-bidat semacam dirimu!" Kepala polisi itu menjawab. "Aku yakin kau akan dibakar bersama yang lainnya, bagi kepentingan rombongan."

"Tidak, Tuan," balas Rose, "bukan bagi kepentingan rombongan, tetapi bagi kepentingan Kristusku, jika aku harus. Dan aku percaya pada belas kasihan-Nya, bahwa jika ia memanggilku untuk melakukannya, Ia akan memampukanku untuk menanggungnya."

Salah satu dari bawahan kepala polisi berseru, "Buktikan dirinya saat ini, dan kau akan melihat apa yang akan ia lakukan nanti."

Dengan itu, si kepala polisi mengambil lilin yang menyala dari gadis itu, dan memegang pergelangan tangannya dalam jepitan yang kencang, menempatkan lilin yang menyala itu di bawah tangannya, membakarnya pada punggung tangannya demikian lama hingga kulitnya mengelupas, otot-ototnnya berderak, dan tulang-tulangnya terlihat.

"Menjeritlah! Biar aku mendengarmu menjerit!" ia berteriak.

Rose menolak untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Ketika ia akhirnya mendorongnya pergi, Rose berkata, "Tuan, apakah Anda telah selesai melakukan apa yang akan Anda lakukan?"

"Ya, dan jika kau tidak menyukainya, maka perbaikilah."

"Perbaiki!" Kata Rose, "Tidak, Tuhan akan memperbaiki Anda, dan memberi kepada Anda pertobatan, jika itu kehendak-Nya. Dan kini, jika Anda pikir baik, mulailah dari kaki, dan bakarlah pula kepalaku. Karena ia yang mengirim Anda pada pekerjaan ini akan membayar upah Anda pada suatu hari nanti, aku berjanji pada Anda."

Setelah mengatakan hal ini, Rose membawa air ke dalam rumah kepada ibunya.

Pada pagi yang sama, kepala polisi dan orang-orangnya juga menahan enam orang lainnya. Setelah mereka dipenjarakan selama beberapa hari, mereka semua dibawa ke persidangan. Masing-masing dari mereka menjawab dengan ketegasan dan menolak untuk mengubah kepercayaan mereka dengan cara apapun. Mereka dijatuhi hukuman untuk dibakar pada tiang pancang.

Saat mereka dibawa keluar, para martir berlutut, mengucapkan doa mereka, dan diikat pada tiang-tiang pancang. Ketika api membumbung ke sekitar mereka, mereka bertepuk tangan bagi sukacita di dalam api.

Orang-orang yang terus menatap -- ribuan dari mereka -- berteriak, "Tuhan menguatkan kalian! Tuhan menghibur kalian! Tuhan melimpahkan belas kasih-Nya kepada kalian!" Dan kata-kata penghiburan yang lain.

Para martir memberikan diri mereka dalam jilatan api dengan keberanian yang membuat semua yang melihat mereka menjadi takjub.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Jesus Freaks
Penyusun: Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit: Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman: 75 -- 77

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......