Bukan berat Beban yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut.
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang
harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.
Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh
di relung hati kita.
Start the day with smile and have a good day........
Written by Isak Rickyanto
Wednesday, 08 June 2005
www.cerita-kristen.com
14 September 2009
Renungan - Cara Pandang terhadap Beban Hidup
Renungan - Apakah orang Kristen wajib puasa?
Kata puasa sebenarnya diserap dari dua kata bhs Sangsekerta yaitu: “upa” dan “wasa”. Upa adalah semacam prefiks yg artinya dekat, sedangkan “wasa” berarti Yang Maha Kuasa. Jadi upawasa, atau yg biasa dilafalkan puasa, merupakan suatu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan dlm bhs Arabnya shaum atau shiam. Menurut bahasa Indonesia, puasa artinya "menahan diri". Menahan diri untuk tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami istri selama waktu tertentu.
Puasa dilakukan oleh berbagai macam bangsa maupun agama di dunia ini mulai dari bangsa Mesir, Tionghoa, Tibet, Yunani, bangsa Arab maupun bangsa Yahudi juga mengenal puasa. Umpamanya orang Jawa mengenal ber-macam2 cara berpuasa (Tapa) antara lain lewat “Tapa Mutih” (hanya makan nasi tanpa garam tujuh hari berturut-turut), “Tapa Ngrowot” (hanya makan sayur tujuh hari tujuh malam), dan “Tapa Pati Geni” (pantang makan makanan yg dimasak dengan api sehari semalam). Hanya motivasi, bentuk, macam, dan caranya masing-masing agama tentu berbeda, terutama dengan cara puasa umat Islam. Dan pada umumnya menjelang bulan Puasa ini selalu timbul pertanyaan; apakah bagi orang Kristen juga ada kewajiban puasa seperti para penganut agama lainnya? Bagaimana puasanya orang Kristen dan berapa lama?
Bagi umat Katolik, biasanya puasa atau pantangan (yaitu tidak melakukan atau makan dan minum sesuatu yang disukainya) dimulai dari Hari Rabu Abu, yg berlangsung selama 40 hari. Puasa itu juga dikenal dan dilakukan di hampir semua gereja di Mesir dimana mereka melakukan puasa penuh selama 40 hari yg lebih dikenal dgn Shaum al-Kabir (Puasa Besar).
Bagaimana menurut Alkitab? Puasa dlm bhs Ibrani tsum, tsom dan “inna nafsyo” yg berarti merendahkan diri dgn berpuasa, sedangkan dlm bhs Yunani = nesteuo, nestis atau asitia/asitos. Yg sdh pasti mulai dari Musa (Kel 34:28), Elia (1 Raj 19:8) maupun Tuhan Yesus (Mat 4:2) mereka melakukan puasa selama 40 hari. Berpuasa dlm Alkitab pada umumnya berarti tdk makan dan tdk minum selama waktu tertentu, jadi bukannya hanya menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu saja lih. (Est 4:16).
Dalam Alkitab, hanya ada satu praktik puasa yang ditentukan, yaitu pada saat hari Pendamaian (hari pengampunan dosa – Im 16; 23; Kis 27:9). Saat itu, seluruh bangsa Israel merayakan hari itu dgn berpuasa dan beristirahat. Disamping itu orang2 Farisi fundamentalis melakukannya juga setiap hari Senin & Kamis (Luk 18:12).
Puasa dapat disebut doa dgn tubuh, karena menyangkut seluruh orang dan tingkah laku rohaninya. Puasa dapat memberikan kemantapan dan intensitas pada doa, karena dapat mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendak-Nya dan dapat bermakna mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dan dengan Puasa menolong orang untuk menghindari keserakahan dan bisa merupakan tanda penyesalan, pertobatan.
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari puasa. Sekurang-kurangnya, kita diingatkan kembali oleh Allah arti penting hidup bersama dgn manusia lainnya. Dgn kata lain, makhluk sosial ini tidak akan bisa hidup tanpa ada hubungan baik dengan sesamanya. Ketika puasa, kita dapat merasakan pahit getir menahan lapar dan dahaga. Padahal penderitaan ini hanya sesaat, yaitu sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Buat fakir miskin kesengsaraan ini dijalani sepanjang hayatnya. Melalui cara ini, mata batin kita akan peka, naluri ingin menolong akan semakin sensitif dan kepedulian kita kepada semua manusia akan semakin baik.
Dapat dikatakan bahwa puasa merupakan suatu ibadah guna menguasai nafsu kedagingan. Mengapa dikatakan ibadah? Karena di dalamnya terkandung relasi yg intim antara orang yang berpuasa dengan Allah, maka pelaksanaannya tidaklah dapat dipaksakan.
Menurut mang Ucup, puasa harus disertai dengan ketulusan hati; sebagai bagian dari ibadah kita kepada Tuhan. Puasa adalah panggilan, bukan kewajiban. Karena itu puasa harus dilakukan dengan sukacita bukan karena terpaksa.
Namun permasalahannya adalah, jika puasa itu adalah ibadah apakah puasa perlu dilegalkan atau diwajibkan dalam hukum agama? Jika demikian kenyataannya, berarti relasi manusia dengan Allah adalah sesuatu yang dapat (bahkan harus) dipaksakan.
Perlu disadari bahwa penebusan Yesus di atas kayu salib telah menggenapi Hukum Taurat (PL) yang bergantung pada usaha manusia menyelamatkan diri sendiri dengan melakukan hukum agama secara ketat (sunat, korban, sabat, puasa, halal-haram dll), menjadi kasih karunia Allah yang diberikan kepada setiap orang yang percaya dan bertobat (Yoh. 3:16; Ef. 2:8-10).
Maranatha
Mang Ucup – The Drunken Priest
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.org
10 September 2009
Renungan - PENERIMAAN
Mirna dan Jack hidup dalam obat bius, pesta-pora, dan kumpul kebo. Mirna mengira orangtua Jack pasti sangat membencinya. Ia keliru. Pada malam Natal, mereka berdua diundang makan bersama keluarga Jack. Mirna memakai kostum ala penyanyi rock dengan tato di tangan, tetapi orangtua Jack tetap bersikap ramah. Ibu Jack sering menelepon sesudah itu. Memberinya nasihat rohani.
Mulanya Mirna mencibir. Suatu hari kecanduannya makin parah. Mirna merasa sangat ketakutan, lalu menelepon si ibu. Orangtua Jack datang bersama pendeta, mendoakan dan memeluknya. Ia terharu sekali karena merasa diterima. Sejak itu Mirna dan Jack menerima Kristus.
Dalam pergaulan sehari-hari, kerap kita jumpai orang yang imannya lemah. Ada yang masih percaya takhayul, gaya hidupnya duniawi, atau terikat dosa tertentu. Banyak pula yang belum beriman, bahkan mencela Kristus. Bagaimana sikap kita? Menghakimi dan menjauhi mereka? Rasul Paulus menantang kita untuk menerima mereka apa adanya (ayat 7), sebagaimana Kristus telah menerima kita. Menerima bukan berarti menyetujui perbuatan dosanya, melainkan "menanggung kelemahannya" (ayat 15). Artinya, berusaha menanggung rasa tidak nyaman ketika menghadapi kelemahannya, sambil berdoa dan berusaha membangun imannya.
Menerima orang seperti Mirna tidaklah mudah. Lebih gampang meninggalkan orang bermasalah seperti dia, lalu bergaul dengan kawan seiman yang lebih menyenangkan. Di sini dibutuhkan penyangkalan diri, kesabaran, dan kerendahan hati. Namun, percayalah: penerimaan Anda akan menyentuh hidup mereka! -JTI
SEBUAH PENERIMAAN YANG TULUS
MEMBUAT JALAN MENUJU TUHAN MENJADI MULUS
diambil dari:
e-RH versi web: http://www.glorianet.org/rh/092009/11.html
e-RH arsip web: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2009/09/11/
Penulis: Juswantori Ichwan - www.renunganharian.net
Roma 15:1-7
1. Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak
kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.
2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama
kita demi kebaikannya untuk membangunnya.
3 Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri,
tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang
mencerca Engkau, telah mengenai aku."
4 Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis
untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang
pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
5. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan,
mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak
Kristus Yesus,
6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan
Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.
7. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus
juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.
01 September 2009
Renungan - Ketetapan Hati Seorang John Calvin
Pergumulan dengan Tuhan melalui keluarga dan sahabat
Yohanes Calvin adalah seorang yang visioner dan fokus, betul - betul mengasihi Tuhan dan memberikan pengabdian tuntas untuk memberikan yang terbaik. Demikian dalam memilih pasangan hidup.
Berikut adalah standar yang ditentukan Calvin untuk calon istrinya.
"The only kind of beauty which can win my soul is a woman who is chaste (bersih), not fastidious (tidak menuntut/ cerewet), economical (sederhana), patient (sabar), and who is likely to interest herself in my health ( memperhatikan kesehatanku)."
Terlihat sulit ya, apalagi di jaman sekarang. Tapi itu baru standar dari seorang Yohanes Calvin, belum standar dari Alkitab sendiri ( baca Amsal 31: 10-31), maka bisa2 semua pria tidak menikah. Tentu saja Alkitab tidak bermaksud ingin membuat setiap pria tidak menikah, ayat2 tersebut dimaksudkan agar setiap wanita sungguh-sungguh mengusahakan diri untuk menjadi perempuan yang sejati. Dan jadi standar bagi kaum wanita dalam mempertimbangkan pasangannya. Ditengah segala keterbatasan dan kelemahan tetap ada batas toleransi yang Tuhan ijinkan dimana pasangan laki - laki dan perempuan itu saling melengkapi.
Lalu bagaimana dengan Calvin? Siapakah wanita yang membuatnya jatuh cinta?
Idelette de Bure of Guelderland adalah janda dari John Storder dari Liege. Pada tahun 1530, Idelette dan suaminya mengungsi ke Strasburg karena penganiayaan atas Injil yang mereka percaya. Pada tahun 1538, Calvin memulai pelayanannya di Strasburg dan kemudian menjadi dekat dengan John Storder dan Idelette. 2 tahun kemudian, John meninggal karena wabah penyakit yang menyebar saat itu dan Idelette menjadi janda. Akhirnya, berkat jasa Martin Bucer, Idelette dapat muncul di kepala Calvin yang super sibuk dan akhirnya Calvin pun menyadari keindahan dalam diri Idelette. Dia lalu menikah dengan Idelette.
Setelah menikah, Calvin dikaruniai 3 anak, tapi sayang sekali semua anak Calvin meninggal ketika bayi. Di masa sulit itu, Calvin pun masih harus menghadapi tuduhan dari gereja Katolik,
"He married Idelette, writes one, 'by whom he had no children, though she was in the prime of life, that the name of this infamous man might not be propagated."
Dalam suratnya kepada sahabatnya, Peter Viret, Calvin mencurahkan perasaannya tentang anaknya.
"This brother, the bearer, will tell you in what anguish I now write to you. My wife has been delivered prematurely, not without extreme danger. My Lord look down upon us in mercy."
Dan kemudian anaknya meninggal, Calvin kembali menulis surat kepada sahabatnya.
"...The Lord has certainly inflicted a severe and bitter wound by the death of our infant son. But He is himself a Father and knows what is necessary for his children."
Dia tidak menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, bahkan dengan penuh keyakinan Calvin tetap memanggil Tuhan itu Bapa. Pernikahannya dengan Idelette pun relatif singkat. 9 tahun setelah menikah, Idelette dipanggil Tuhan.
Inilah percakapannya dengan Idelette menjelang kematian sang istri tercinta.
Idelette :"I have already commended them to the Lord." ( tentang 2 anaknya dari pernikahan sebelumnya)
Calvin :"That will not prevent me from caring for them."
Idelette :"I am sure you will not neglect the children whom you know to be commended to the Lord."
Calvin :"This greatness of soul will influence me more powerfully than a hundred commendations would have done."
Sampai akhir hayatnya, Calvin tetap bekerja keras dan fokus menunaikan tugasnya dengan penuh pengharapan, dan tidak pernah menikah lagi.
sumber : diringkas dari PILLAR ( bulletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia)
www.buletinpillar.org
www.cerita-kristen.com
Renungan - Calvin dan Uang
Kalau kita ditanya, "Relakah Anda memberikan sebagian besar uang hasil kerja keras kepada pekerjaan Tuhan, dan hidup seminimal mungkin bagi diri sendiri?"
Apakah jawaban Anda? Pikir- pikir dulu? Menghitung warisan yang dapat diwariskan untuk anak cucu dulu? Atau kita bisa langsung menjawab," Ya pasti saya akan memberikan sebagian besar untuk pekerjaan Tuhan dan minimal untuk saya."
Adakah orang seperti ini di dunia ini, yang menyadari bahwa hidupnya bukan bagi dirinya lagi, tapi Kristus di dalam dia. Jawabannya ada : Yohanes Calvin.
Yohanes Calvin dilahirkan di Noyon, Prancis pada 10 Juli 1509 dan meninggal di Jenewa, Swiss 27 Mei 1564. Calvin adalah anak kedua dari lima bersaudara, dimana ketiga saudaranya meninggal ketika masih bayi, hanya dia dan adiknya yang bertahan hidup. Ibunya meninggal ketika Calvin masih kecil, dan ayahnya kawin lagi dengan seorang janda yang melahirkan dua anak perempuan. Ayahnya berambisi anak laki-lakinya harus mendapatkan pendidikan yang tinggi, sehingga pada umur 12 tahun, Calvin sudah mendapatkan posisi di altar La Gesine di katedral Noyon, dimana dia mulai menerima pemasukan uang secara reguler.
Itulah sekilas riwayat hidup Calvin. Calvin menghabiskan sisa hidupnya bersama penyakit yang dideritanya ( istrinya meninggal pada 29 Mei 1549) dan dia tidak pernah menikah lagi. Dari catatan-catatan kecil tentang kehidupannya, kita bisa mengetahui bagaimana Calvin menggunakan uangnya. Di Jenewa, Calvin mendapat kehormatan dari pemerintah, diberikan sebuah rumah tinggal, dan mendapatkan gaji sebesar 500 florins, gandum, dan juga 2 gentong anggur. Namun pada akhir hidupnya, Calvin hanya menyisakan 170 dollar ketika dia meninggal. Uangnya dipakai untuk melayani orang lain.
Inilah Calvin yang sebenarnya mempunyai kesempatan hidup nyaman dan enak, tapi memilih untuk tidak melakukannya. Kenyamanan baginya adalah menjalankan kehendak Bapa di surga. Seperti Yesus ketika hidup di dunia, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." ( Yoh 4:34).
Atau bisa juga kita melihat kesaksian hidup pak Pendeta Stephen Tong. Sehari - harinya, baik di Indonesia maupun ketika keliling dunia untuk pelayanan, beliau memakai uang seminimal mungkin untuk dirinya sendiri dengan makan makanan murah, tinggal di hotel sederhana, termasuk mencuci pakaiannya sendiri. Hal ini dilakukan bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk berhemat dan membeli barang kebutuhan gereja seperti alat musik atau benda keperluan lainnya untuk pelayanan. Uangnya dipakai untuk memperluas kerajaan Tuhan di muka bumi ini.
Bagaimana dengan kehidupan kita hari ini? Bagaimanakah kita memperlakukan uang yang dipercayakan oleh Tuhn? Apakah kita masih menganggap uang itu adalah milik kita sambil mengatakan bahwa segala sesuatu dalam hidup kita adalah milik Tuhan? Apalagi jika kita anggap uang itu adalah hasil kerja keras kita. Kita anggap kita boleh memakai uang itu untuk apapun yang kita mau.
" Toh saya tidak mencuri uang itu, saya tidak pakai uang itu untuk narkoba, berjudi, dan hal buruk lainnya. Saya pakai itu untuk beli baju baru, apa salahnya? Saya pakai untuk makan di restoran mewah, mengganti hp saya dengan hp terbaru, apa salahnya ? Toh hp itu juga dipakai untuk berkomunikasi dalam pelayanan ". Bukankah semua yang kita lakukan itu beserta alasannya tampaknya baik - baik saja dan masuk akal? Kita lupa kalau semua yang dipercayakan Tuhan kepada kita bukan milik kita tetapi milik Tuhan dan Tuhan mau kita memakai semua itu untuk kemuliaan dan kebesaran nama-Nya.
Ironis ketika berkat itu datang kepada kita, kita lalu melupakan Sang Pemberi berkat. Kita hampir tidak pernah menggumulkan dan menanyakan, " Sudahkah uang ini saya pakai sesuai perkenanan Tuhan?" Sadarkah kita bahwa sekalipun kesannya itu "halal" tetapi jika pemakaian uang itu tidak sesuai dengan perkenanan-Nya maka itu adalah dosa. Seperti kata pak Stephen Tong,"Jikalau uang sudah menjadi tuhanmu, bagaimanapun engkau berbakti, itu semuanya palsu di hadapan Allah."
Lalu bagaimanakah seharusnya kita mempergunakan uang yang ada dalam genggaman kita ini? Bertanyalah pada Tuhan! Ikutilah teladan orang yang mendasari hidup mereka dengan firman Tuhan.
Sampai akhir hidupnya, di dalam penyakit yang dideritanya, Calvin tetap kerja keras untuk Tuhan tanpa istirahat ( hanya tidur 1-2 jam sehari), sehingga membuat teman - temannya khawatir. Namun ia menjawab, "Apa! Apakah engkau mau Tuhan melihat saya sedang bermalas-malasan ketika Dia datang?". Bahkan ketika mati pun ia tidak ingin dikenang. Ia dikuburkan di Cimetiere des Rois, tempatnya tepat dimana, tidak ada yang tahu. Untuk mengenangnya dibuat sebuah nisan dengan inisial J.C, tanpa saksi maupun upacara.
Bagaimana dengan kita?
Marilah kita tunjukkan dalam hidup kita bahwa uang bukan yang terpenting, dan segala sesuatu yang ada pada kita sesungguhnya bukan milik kita. Mengutip Paulus, marilah ketika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, ketika kita mati, kita mati untuk Tuhan. ( Roma 14:7-9).
sumber: PILLAR, buletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia.
www.cerita-kristen.com
