Tampilkan postingan dengan label natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label natal. Tampilkan semua postingan

07 Desember 2009

Jadwal Ibadah Natal 2009 & Tahun Baru 2010


  • Natal Pemuda Remaja
    Sabtu, 19 Desember 2009 pk. 17.30 WIB
    Tema: "Natal Bersama Kristus (Christmas With Christ)"
    Oleh: Pdt. Darius Maro

  • Natal Sekolah Minggu
    Minggu, 20 Desember 2009 pk. 15.00 WIB
    Tema: "Aku Bergembira Karena Allah Juru Selamatku"
    Oleh: Pdt. Yan Antoni

  • Perayaan Malam Natal
    Kamis, 24 Desember 2009 pk. 18.00 WIB
    Tema: "Ketika Yang Tak Terbatas Menjadi Terbatas"
    Oleh: Pdt. M. Asri

  • Kebaktian Natal
    Jum'at, 25 Desember 2009 pk. 09.00 WIB
    Tema: "Dimanakah Yesus di Hari Natal?"
    Oleh: Pdt. Yan Antoni

  • Kebaktian Penutupan Tahun 2009
    Kamis, 31 Desember 2009 pk. 19.00 WIB
    Tema: "Dulu, Kini dan Nanti"
    Oleh: Pdt. M. Asri

  • Kebaktian Awal Tahun 2010
    Jum'at, 1 Januari 2010 pk. 09.00 WIB
    Tema: "Awal yang Baru"
    Oleh: Pdt. Yan Antoni

  • Tempat:
    - Gedung Utama
    - Gedung Serbaguna Lantai 1
    - Gedung Serbaguna Lantai 2


    Panitia Natal 2009

  • Ketua Panitia
    Pnt. Peter Gunarso Oentoro
  • Wakil Ketua
    Bpk. Ronny Dino
  • Sekretaris
    Sdr. Ricky Setyajatmiko A.
  • Bendahara
    Pnt. Suharis
  • Sie. Perlengakapan
    Dkn. Titus Sujianto
  • Sie. Acara
    - Bpk. Teguh Rasyono Putro
    - Bpk. Yurry W. Bariki
  • Sie. Konsumsi
    Ibu Chen Rosmawati Tandaputra
  • Sie. Dokumentasi
    Sdr. Yulian Fajar Ariyadhi
  • Sie. Dekorasi
    Bpk. Sefanus Ngadirin
  • Sie. Publikasi
    Bpk. Ananias Sapta Eka
  • Sie. Doa
    Bpk. Ridwan Samuel Pardede
  • Sie. Sound System/Genset
    Bpk. Ritno Harianja
  • Sie. LCD
    Sdr. Victor
  • Sie. Transportasi
    Bpk. Purnadi Lanudjaja
  • Sie. Keamanan
    Bpk. Yudhi Hernawan







Baca_selengkapnya......

01 Desember 2009

Kisah - Rahasia Marty

Saya tumbuh dalam keyakinan bahwa Natal adalah saat ketika hal-hal yang aneh dan menyenangkan terjadi. Orang-orang bijak datang sambil membawa persembahan yang banyak, binatang-binatang dalam kandang berbincang-bincang pada tengah malam, dan bintang Tuhan yang megah memancar kepada kita bagaikan seorang bayi. Bagi saya, Natal merupakan momen yang penuh pesona. Hal itu pulalah yang saya rasakan ketika anak saya, Marty, berusia 8 tahun.

Pada saat itu, saya dan anak-anak pindah ke sebuah trailer (rumah mobil) pada sebuah hutan di luar Redmond, Washington. Liburan semakin dekat dan semangat kami begitu menggebu-gebu. Tidak ada sesuatu yang dapat mengganggu suasana hati kami, sekalipun hujan pada musim dingin menyiram rumah kami dan membuat lantai menjadi berlumpur.

Selama bulan Desember tersebut, Marty adalah anak yang paling bersemangat dan sibuk dalam keluarga kami. Ia adalah anak bungsu, seorang anak laki-laki yang periang, berambut pirang, dan senang bermain. Ia memiliki kebiasaan memandang orang yang sedang berbicara kepadanya sambil memiringkan kepalanya sedikit. Alasannya adalah telinga kiri Marty tuli.

Tetapi, ia tidak pernah bersungut-sungut karena kekurangannya tersebut. Selama beberapa minggu, saya memerhatikan Marty. Saya tahu bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Saya tahu betapa giatnya ia merapikan tempat tidur, membuang sampah, dengan teliti menyiapkan meja makan, serta membantu Rick dan Pam menyiapkan makan malam sebelum saya pulang dari kerja. Saya melihat bagaimana ia secara diam-diam menyisihkan uang sakunya dan menyimpannya, tidak menggunakan 1 sen pun. Saya tidak tahu apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan, tetapi saya rasa hal itu ada hubungannya dengan Kenny.

Kenny adalah teman Marty. Sejak mereka berkenalan pada musim semi, mereka tak terpisahkan. Jika Anda menemukan Kenny, Anda akan menemukan Marty, dan begitu pula sebaliknya. Dunia mereka berada di padang rumput yang dibelah oleh sungai kecil. Di tempat itu, mereka dapat menangkap kodok dan ular, mencari mata anak panah atau harta terpendam, atau menghabiskan sepanjang siang untuk memberikan kacang kepada bajing. Keluarga kami berada dalam masa-masa sulit, sehingga kami harus berhemat. Syukurlah, saya masih memiliki pekerjaan sebagai pembungkus daging dan juga keuletan, sehingga segala kebutuhan kami masih tercukupi. Tetapi, tidak demikian halnya dengan keluarga Kenny. Mereka sangat miskin. Ibunya berjuang untuk menghidupi kedua anaknya. Mereka adalah keluarga yang baik dan utuh, tetapi ibu Kenny adalah seorang yang angkuh dan memiliki peraturan-peraturan tegas yang tidak bisa diganggu gugat. Yang kami lakukan setiap tahun adalah mempersiapkan Natal sehingga menjadi pesta yang menyenangkan dengan membuat kado-kado Natal dan menghias seisi rumah kami. Adakalanya, Marty dan Kenny harus duduk berjam-jam untuk membantu membuat contong permen atau hiasan untuk pohon Natal. Tetapi, dengan satu bisikan dari Marty atau Kenny, mereka berdua bisa tiba-tiba menghilang, merunduk perlahan di bawah pagar listrik menuju padang rumput yang memisahkan rumah kami dengan rumah Kenny.

Pada suatu malam, beberapa hari sebelum Natal, ketika tangan saya penuh dengan adonan "peppernodder", membentuk kue-kue Danish yang ditaburi kayu manis dalam jumlah banyak, Marty datang kepada saya dan berbicara dengan nada bangga, "Ibu, aku telah membelikan hadiah untuk Kenny. Ibu mau lihat?" Jadi ternyata hal ini yang selama ini ia persiapkan. "Kompas ini adalah benda yang sudah lama ia dambakan,
Bu." Setelah secara perlahan mengelap tangannya, Marty mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan membuka tutup kotak tersebut. Saya terpana pada kompas saku yang telah dibeli anak saya menggunakan semua tabungan dari uang sakunya. "Ini adalah hadiah yang sangat indah, Marty," ucap saya. Tapi saat saya berbicara, sebuah pikiran datang mengganggu. Saya tahu bagaimana perasaan ibu Kenny tentang kekurangan mereka. Mereka tidak mampu bertukar hadiah antaranggota keluarga, apalagi memberikan hadiah kepada orang lain. Saya yakin ibu Kenny tidak akan membiarkan anaknya menerima sesuatu yang tidak dapat ia balas. Secara perlahan saya mengutarakan masalah tersebut kepada Marty. Ia mengerti maksud saya. "Aku tahu, Bu, aku tahu ... tapi, bagaimana jika ini menjadi sebuah rahasia? Bagaimana jika mereka tidak pernah tahu siapa yang memberikan hadiah ini?" Saya tidak tahu harus menjawab apa.

Sehari sebelum Natal turun hujan, cuaca menjadi dingin dan mendung. Saya dan ketiga anak saya saling mengawasi; sibuk memberi sentuhan akhir sembari menyembunyikan kado-kado rahasia dan bersiap-siap jika ada keluarga atau teman yang datang berkunjung. Malam pun tiba. Hujan masih tetap turun. Saya memandang keluar dengan perasaan sedih. Hujan benar-benar mengguyur malam Natal. Bagaimana para orang bijak bisa datang pada malam seperti ini? Saya meragukannya. Sepertinya saya beranggapan bahwa hal-hal yang aneh dan menyenangkan hanya terjadi pada malam yang cerah dan terang, ketika kita dapat memandang bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Saya pun menyingkir dari jendela.

Dan, saat memeriksa daging dan roti yang sedang dihangatkan di oven, saya melihat Marty keluar. Ia mengenakan jas hujan yang menutupi piyamanya, dan ia membawa sebuah kotak yang telah dibungkus dengan indah. Ia berjalan melalui rumput yang basah, merunduk di bawah pagar listrik, dan berjalan terus menuju rumah Kenny. Ia berjalan berjinjit karena sepatunya basah. Ia meletakkan hadiah yang telah ia siapkan di depan pintu rumah Kenny, kemudian ia mengambil napas yang dalam dan memencet bel dengan keras.

Dengan cepat, Marty berbalik dan berlari agar tidak ketahuan. Lalu, tiba-tiba, ia menabrak pagar listrik. Kejutan listrik membuatnya terhuyung-huyung. Ia terjerembab di tanah yang basah. Tubuhnya bergetar dan ia pun terengah-engah mengambil napas. Kemudian, perlahan-lahan, ia berusaha berjalan kembali ke rumah. "Marty!", saya menangis saat melihatnya masuk. "Apa yang terjadi?" Bibir bawahnya bergetar, matanya basah. "Aku lupa kalau ada pagar. Aku menabraknya!" Saya memeluk tubuhnya yang penuh lumpur. Ia masih linglung dan ada tanda luka berwarna merah yang mulai melepuh di wajahnya, dari mulut sampai telinga. Saya langsung merawat wajah Marty dan memberikan segelas cokelat hangat untuk menenangkannya. Semangat Marty langsung kembali. Saya pun menemaninya tidur. Tepat sebelum tertidur, ia memandang saya sambil berkata, "Ibu, Kenny tidak melihatku. Aku yakin ia tidak melihatku."

Pada malam Natal itu, saya tidur dengan perasaan tidak senang dan bingung. Mengapa hal yang menyedihkan seperti ini justru terjadi pada seorang anak yang sedang melakukan apa yang Tuhan ingin kita semua lakukan, memberi kepada orang lain, dan merahasiakan perbuatan tersebut. Saya tidak dapat tidur pulas malam itu. Dari dalam lubuk hati yang terdalam, saya merasa kecewa karena di malam Natal tidak terjadi sesuatu yang indah dan misterius, ini hanyalah salah satu malam biasa yang penuh dengan masalah. Tetapi ternyata saya salah. Pada pagi hari ketika hujan berhenti dan matahari bersinar dengan cerahnya. Memar di wajah Marty masih berwarna merah, tetapi saya dapat melihat bahwa lukanya tidak serius. Kami pun membuka kado-kado dan bersukaria, sampai tiba-tiba Kenny mengetuk pintu, dengan mata berbinar-binar ia memperlihatkan kompas barunya kepada Marty dan menceritakan kejutan misterius yang ia alami tadi malam. Kenny sama sekali tidak curiga kepada Marty, dan saat keduanya
berbincang-bincang, Marty terus tersenyum.

Kemudian saya memerhatikan bahwa saat keduanya saling membandingkan pengalaman Natal yang mereka alami, menganggukkan kepala, dan saling berbincang-bincang, Marty tidak memiringkan kepalanya saat Kenny berbicara. Seakan-akan Marty mampu mendengar menggunakan telinga tulinya. Beberapa minggu kemudian, saya menerima laporan dari dokter sekolah, memastikan sesuatu yang Marty dan saya sudah tahu: Pendengaran Marty telah pulih dan bisa mendengar dari kedua telinganya! Bagaimana Marty memperoleh pendengarannya kembali, masih merupakan misteri. Para dokter curiga bahwa ini ada hubungannya dengan kejutan listrik dari pagar yang ia tabrak. Mungkin benar demikian. Apa pun alasannya, saya bersyukur kepada Tuhan atas timbal balik yang terjadi pada malam Natal tersebut. Jadi, Anda dapat melihat bahwa hal-hal yang aneh dan indah masih terjadi pada malam kelahiran Tuhan. Dan, setiap orang masih dapat mengikuti sebuah bintang besar, sekalipun pada malam yang gelap.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
Judul asli buku: Guideposts for The Spirit: Christmas Stories of Faith
Penulis: Diane Rayner
Penerjemah: Mary N. Rondonuwu
Penerbit: Gospel Press, Batam 2006
Halaman: 4 -- 12

Arsip KISAH: http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/
Situs KEKAL: http://kekal.sabda.org/

Baca_selengkapnya......

28 November 2009

Kisah - The Last Waltz

Namaku Lily, kami tinggal di sebuah kota kecil di Manado. Sejak muda, ibuku senang sekali menari. Untuk itu, saat pernikahannya, Ayah meminta agar tarian terakhir ibu dipersembahkan untuknya. Maka dari itu, lagu pertama pada saat ibu menari adalah "The Last Waltz" dari Engelbert Humperdinck. Dan rupanya ini benar-benar menjadi kenyataan, karena beberapa bulan kemudian pada saat melahirkan aku, ibu meninggal dunia.

Daddy -- begitulah aku memanggil Ayah, karena kasihnya kepada ibu, Daddy tidak pernah mau menikah lagi. Aku dibesarkan oleh Daddy dan Nenek, dan setiap malam Natal, sudah merupakan tradisi bagi Daddy untuk selalu mengalunkan lagu kesayangannya, "The Last Waltz", sambil mengingat ibu. Ketika aku berusia 5 tahun, Daddy mengajari aku menari waltz.

Sejak saat itu, setiap malam Natal, kami menari waltz berdua. Pada hari ulang tahunku yang kedua belas, bertepatan dengan malam tahun baru, Daddy memberikan hadiah kepadaku berupa "long dress" berwarna merah, dan kami berdua menari waltz.

Pada saat itu, aku benar-benar merasa seperti sang putri dalam kisah Cinderella yang sedang menari dengan sang pangeran. Daddy sangat mengasihiku sehingga hampir semua permohonanku selalu dikabulkan olehnya, ia benar-benar mengabdikan hidupnya hanya untukku.

Namun, setiap hari Daddy harus bekerja seharian di kantor dan ia sangat sibuk, sehingga satu-satunya yang membimbing aku di rumah adalah Nenek. Kurangnya perhatian Daddy membuat aku terjerumus dalam pergaulan bebas, dan akhirnya mulai menggunakan dan kecanduan narkoba. Hampir setiap hari aku pulang malam.

Walaupun demikian, Daddy selalu menunggu kepulanganku dengan sabar. Ia baru bisa tidur setelah aku pulang. Pada malam Natal, aku lebih senang merayakannya di diskotek bersama anak-anak muda lainnya daripada bersama Daddy. Karena itulah Daddy merasa sedih, bahkan untuk pertama kalinya aku melihat Daddy mengeluarkan air mata.

Karena kebutuhanku akan narkoba semakin meningkat, akhirnya aku mencuri uang tabungan Daddy yang seharusnya digunakan untuk masa tuanya, dan melarikan diri ke Jakarta dengan harapan aku bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri di sana.

Pada hari-hari pertamaku di Jakarta, aku menumpang di rumah Om. Ternyata, mencari pekerjaan di Jakarta tidak semudah yang aku bayangkan, sehingga akhirnya aku terpaksa melamar bekerja di klub malam "Blue Ocean" sebagai pramuria. Kalau dulu aku menari dengan Daddy, di sana aku terpaksa menari dengan pria yang sebaya dengan Daddy, bahkan tak jarang, aku bersedia menemani mereka tidur di hotel.

Setelah sebulan aku berada di Jakarta, aku menerima surat dari Daddy yang dialamatkan ke kosku, rupanya Daddy mengetahui alamat kosku dari Om. Dalam seminggu, aku menerima tiga surat dari Daddy, bahkan terkadang lebih. Tetapi, tak satu pun suratnya kubalas. Jangankan kubalas, kubuka pun tidak. Aku merasa malu dan tidak berani membaca surat dari Daddy. Aku merasa berdosa terhadap Daddy, bahkan aku merasa jijik terhadap diriku sendiri.

Sudah lebih dari 1 tahun aku di Jakarta. Surat-surat yang kukumpulkan ada dalam beberapa dus. Semuanya kusimpan dengan rapi, hanya sayangnya surat-surat itu sekadar menjadi pajangan bagiku, karena aku tidak berani dan tidak mau membukanya. Aku tidak ingin Daddy mengetahui bahwa gadis kesayangannya, gadis yang demikian dibanggakannya, telah menjadi seorang pramuria, bahkan telah menjadi pecandu berat narkoba.

Beberapa hari sebelum Natal, aku menerima surat lagi, ditulis dengan tulisan tangan yang sama, dan bentuk sampul yang sama. Namun, kali ini tidak dikirim melalui pos maupun ke alamat kosku, tetapi dikirim dan dititipkan langsung ke klub malam tempat aku bekerja. Dan, ketika aku menanyakan siapa yang menitipkan surat tersebut, ternyata dari gambaran yang diberikan, orang yang menitipkan surat itu adalah Daddy. Daddy datang sendiri ke Jakarta hanya untuk mengantarkan surat untukku.

Kali ini, aku tidak tahan ingin membukanya. Dengan air mata yang berlinang, aku membaca surat itu, isinya demikian: "Lily, my dearest beloved princess, Daddy sejak lama tahu di mana kamu bekerja, Daddy meminta satu hal: 'Maukah kamu pulang kembali ke rumah untuk menari bersama Daddy?'"

Setelah membaca surat tersebut, aku langsung pulang ke kos untuk membaca ratusan surat lainnya yang belum kubuka, ternyata semua surat Daddy isinya sama. Ia menanyakan hal yang sama: "Maukah Lily menari lagi bersama dengan Daddy?"

Hari itu juga aku langsung mengambil keputusan untuk pulang. Karena menjelang Natal, hampir semua pesawat "fully book", terpaksa aku membeli tiket dengan harga yang jauh lebih mahal, dengan harapan bahwa aku bisa sampai di rumah sebelum malam Natal.

Setibanya di rumah, Daddy langsung memelukku erat, air matanya berlinang deras membasahi kepalaku. Dengan terisak-isak, Daddy bertanya sekali lagi, "Maukah Lily menari lagi bersama Daddy?" Aku mengangguk sambil menjawab, "Ya, tetapi apakah Daddy tahu, bahwa sekarang ini Lily bukanlah princess Daddy yang dulu? Aku adalah seorang pramuria yang kotor, bahkan telah mengidap penyakit AIDS, apakah Daddy tidak malu menerimaku kembali, apakah Daddy tidak takut ketularan penyakitku?"

Daddy tidak berkata sepatah kata pun, ia bergerak, memutar lagu kesayangannya, "The Last Waltz". Kemudian ia memelukku dengan penuh kasih untuk mengajak aku menari seperti hari-hari Natal sebelumnya, kali ini tidak hanya diiringi irama lagu, tetapi juga oleh tetesan air mata yang berderai.

Tanpa kuketahui, sejak aku meninggalkan Daddy, ia sering bergadang menunggu dan mengharapkan kedatanganku kembali. Selain itu, karena duka yang mendalam, Daddy mengidap kanker. Sekitar 2 minggu setelah Natal, Daddy mengembuskan napas untuk terakhir kalinya.

Rupanya, ia merasakan bahwa kematian telah dekat. Karena itulah, dalam keadaan sakit, ia memaksakan diri pergi ke Jakarta untuk mengantarkan surat kepadaku, hanya untuk mewujudkan keinginannya yang terakhir, agar ia bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi menari dengan putri kesayangannya. Masih terngiang-ngiang di telingaku lirik lagu kesayangannya, "The Last Waltz A little girl alone and so shy/I had the last waltz with you/Two lonely people together/I fell in love with you/The last waltz should last forever/But the love we had was goin' strong."

Menjelang Natal ini, banyak orang tua mengharapkan dan menunggu kedatangan anak-anaknya. Bagaimana pun keadaan dan situasi kita saat ini, orang tua kita menerima kita apa adanya, dengan segala kelemahan dan kelebihan kita. Terlebih lagi, mereka tidak mau mengingat kesalahan-kesalahan kita di masa lalu. Hanya satu yang mereka inginkan, yaitu berkumpul bersama putra-putrinya di hari Natal, melihat dan memeluk mereka. Berapa lama lagi kita akan menyuruh mereka menunggu? Datang dan kembalilah sebelum terlambat! Kalau keadaan tidak memungkinkan, teleponlah mereka sambil mengatakan, "Aku mencintaimu, Ayah dan lbu. Selamat Natal."

Renungkanlah: Apabila kita manusia yang penuh dosa bisa mengasihi sedemikian rupa, betapa lebih besarnya kasih Allah, Sang Bapa, yang tanpa dosa dan yang tak pernah memikirkan diri sendiri, kepada kita (Matius 7:11).

Ya, Bayi Suci di Betlehem,
belailah kami dengan tangan-Mu yang mungil,
peluklah kami dengan lengan-Mu yang kecil,
tembuslah hati kami dengan tangis-Mu yang lembut dan manis.
Datanglah kepada kami, tinggallah bersama kami, Ya, Tuhan, Imanuel.
Amin.

-MANG UCUP

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: My Favourite Christmas
Penulis: Mang Ucup
Penerbit: Gloria Cyber Ministries, Yogyakarta 2006
Halaman: 18 -- 25

Baca_selengkapnya......

03 Mei 2009

MALAM KUDUS - Lagu Surgawi

Tidak bisa dipungkiri bahwa lagu yang paling nge-top di dunia pada saat menjelang Natal adalah lagu "Malam Kudus". Banyak pembunuh yang paling sadis sekalipun juga turut menangis ketika mereka mendengar lagu ini.

Kami orang Indonesia di perantauan, terutama para penganut agama Nasrani, turut merasa menjadi sedih, apabila mendengar lagu ini. Sebab kami terkenang kembali akan masa lampau kami, masa ketika kami masih kanak-kanak, masa ketika kami masih sekolah. Teringat kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya yang jauh di tanah air. Hari-hari Natal bagi kami adalah saat-saat di mana rasa rindu ingin pulang ke tanah air menjadi semakin besar dan semakin bertambah.


Kita akan merasa ada sesuatu yang kurang, apabila pada saat perayaan Natal tidak menyanyikan lagu "Malam Kudus". Malam Kudus memang layak disebut sebagai lagu Natal sepanjang masa! Bahkan ada yang menilai, bahwa lagu ini adalah "Lagu Surgawi".

Lagu yang indah ini telah diterjemahkan dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Jerman ke ratusan bahasa lainnya. Banyak orang menduga bahwa lagu ini pasti disusun dan dikomponis oleh seorang ahli musik kondang, seperti Mozart atau Beethoven. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian, bahkan lagu ini pun dibuat sebenarnya dengan tanpa diduga dan direncanakannya terlebih dahulu. Lagu yang dibuat oleh orang biasa, tetapi telah menjadi lagu yang luar biasa.

Joseph Mohr (1792-1848) adalah asisten pastor dari gereja kecil yang bernama St. Nicholas di daerah pegunungan Tirol (Jerman Selatan). Karena ia tinggal di desa maka yang menjadi pemain organnya juga seorang guru sekolah yang bernama Franz Gruber (1787-1863).

Beberapa hari sebelum Natal ternyata organ gereja rusak, mereka menjadi bingung, bagaimana mereka bisa merayakan Natal tanpa organ. Karena mereka tidak ingin mengecewakan para pengunjung gereja sedangkan hari Natal yang sudah ada di ambang pintu, maka Herr Mohr mencoba mulai menyusun lagu baru dengan kata-kata yang sederhana. Di mana lagu tersebut nanti bisa dinyanyikan dengan tanpa harus diiringi dengan organ.

Setelah liriknya selesai disusun, ia memperlihatkan lirik dari lagu tersebut kepada kawan baiknya Herr Gruber: "Puji Tuhan, Friend Mohr, kami telah menemukan satu lagu yang indah sekali!" Setelah itu langsung Herr Gruber membuat komposisi untuk lirik lagu yang telah dibuat oleh kawan baiknya Herr Mohr. Akhirnya jadilah lagu "Malam kudus" yang kita kenal sekarang ini. Satu lagu yang sangat sederhana tetapi indah baik dari liriknya maupun melodinya. Dan tepat pada hari Natal, Herr Mohr dan Herr Gruber menyanyikan lagu tersebut didampingi oleh petikan gitar dari Herr Gruber.

Ketika tukang organ datang untuk memperbaiki organ di gereja tersebut, ia sangat terpesona sekali oleh lagu yang dibuat dan disusun oleh Herr Gruber & Herr Mohr. Akhirnya, ia berhasrat untuk menyebarluaskan lagu tersebut ke seluruh Jerman. Dan pada tahun 1843, lagu tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John F. Young (1820-1885).

Aneh tapi nyata, andaikan pada saat tersebut organ di gereja Herr Mohr tidak rusak, mungkin lagu ini tidak akan tercipta menjadi satu lagu yang luar biasa indahnya dan terciptanya secara kebetulan, yaitu karena organ gereja rusak.


Lagu Dunia dan Surgawi

Bagaimana dengan sisa hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan lagu "Malam Kudus"?

Josef Mohr meninggal pada usia 56 tahun, sedangkan Franz Gruber meninggal pada usia 76 tahun. Walaupun demikan, sejauh pengetahuan banyak orang, mereka tidak pernah menulis ataupun menciptakan apa-apa lagi yang luar biasa. Nama-nama mereka pasti sudah dilupakan oleh dunia sekarang. Kecuali satu kejadian, yaitu pada masa muda, mereka pernah bekerja sama untuk menghasilkan sebuah lagu pilihan.

Gereja kecil tempat di mana lagu ini diciptakan dilanda banjir pada tahun 1899, sehingga hancur luluh. Namum sebuah gedung gereja yang baru sudah dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan perunggu sebagai peringatan lagu "Malam Kudus".

Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Tuhan di surga. Tangannya ditaruh di telinga. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz Gruber, yang juga tersenyum sambil memetik gitarnya.

Sungguh tepat sekali kiasan dalam pahatan itu. Seolah-olah seisi dunia, juga seisi surga, turut menyanyikan "Lagu Natal di sebuah desa kecil di pegunungan".

Malam kudus, sunyi senyap,
Siapa yang belum lelap?
Ayah bunda yang tinggallah t'rus,
Jaga Anak yang maha kudus;
Anak dalam malaf, Anak di dalam malaf

(Lukas 2:11) Hari ini di kota Daud telah lahir Raja Penyelamatmu, yaitu Kristus, Tuhan.

Mang Ucup
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.org


Baca_selengkapnya......