14 September 2009

Renungan - Apakah orang Kristen wajib puasa?

Kata puasa sebenarnya diserap dari dua kata bhs Sangsekerta yaitu: “upa” dan “wasa”. Upa adalah semacam prefiks yg artinya dekat, sedangkan “wasa” berarti Yang Maha Kuasa. Jadi upawasa, atau yg biasa dilafalkan puasa, merupakan suatu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan dlm bhs Arabnya shaum atau shiam. Menurut bahasa Indonesia, puasa artinya "menahan diri". Menahan diri untuk tidak makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami istri selama waktu tertentu.

Puasa dilakukan oleh berbagai macam bangsa maupun agama di dunia ini mulai dari bangsa Mesir, Tionghoa, Tibet, Yunani, bangsa Arab maupun bangsa Yahudi juga mengenal puasa. Umpamanya orang Jawa mengenal ber-macam2 cara berpuasa (Tapa) antara lain lewat “Tapa Mutih” (hanya makan nasi tanpa garam tujuh hari berturut-turut), “Tapa Ngrowot” (hanya makan sayur tujuh hari tujuh malam), dan “Tapa Pati Geni” (pantang makan makanan yg dimasak dengan api sehari semalam). Hanya motivasi, bentuk, macam, dan caranya masing-masing agama tentu berbeda, terutama dengan cara puasa umat Islam. Dan pada umumnya menjelang bulan Puasa ini selalu timbul pertanyaan; apakah bagi orang Kristen juga ada kewajiban puasa seperti para penganut agama lainnya? Bagaimana puasanya orang Kristen dan berapa lama?

Bagi umat Katolik, biasanya puasa atau pantangan (yaitu tidak melakukan atau makan dan minum sesuatu yang disukainya) dimulai dari Hari Rabu Abu, yg berlangsung selama 40 hari. Puasa itu juga dikenal dan dilakukan di hampir semua gereja di Mesir dimana mereka melakukan puasa penuh selama 40 hari yg lebih dikenal dgn Shaum al-Kabir (Puasa Besar).

Bagaimana menurut Alkitab? Puasa dlm bhs Ibrani tsum, tsom dan “inna nafsyo” yg berarti merendahkan diri dgn berpuasa, sedangkan dlm bhs Yunani = nesteuo, nestis atau asitia/asitos. Yg sdh pasti mulai dari Musa (Kel 34:28), Elia (1 Raj 19:8) maupun Tuhan Yesus (Mat 4:2) mereka melakukan puasa selama 40 hari. Berpuasa dlm Alkitab pada umumnya berarti tdk makan dan tdk minum selama waktu tertentu, jadi bukannya hanya menjauhkan diri dari beberapa makanan tertentu saja lih. (Est 4:16).

Dalam Alkitab, hanya ada satu praktik puasa yang ditentukan, yaitu pada saat hari Pendamaian (hari pengampunan dosa – Im 16; 23; Kis 27:9). Saat itu, seluruh bangsa Israel merayakan hari itu dgn berpuasa dan beristirahat. Disamping itu orang2 Farisi fundamentalis melakukannya juga setiap hari Senin & Kamis (Luk 18:12).

Puasa dapat disebut doa dgn tubuh, karena menyangkut seluruh orang dan tingkah laku rohaninya. Puasa dapat memberikan kemantapan dan intensitas pada doa, karena dapat mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendak-Nya dan dapat bermakna mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dan dengan Puasa menolong orang untuk menghindari keserakahan dan bisa merupakan tanda penyesalan, pertobatan.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari puasa. Sekurang-kurangnya, kita diingatkan kembali oleh Allah arti penting hidup bersama dgn manusia lainnya. Dgn kata lain, makhluk sosial ini tidak akan bisa hidup tanpa ada hubungan baik dengan sesamanya. Ketika puasa, kita dapat merasakan pahit getir menahan lapar dan dahaga. Padahal penderitaan ini hanya sesaat, yaitu sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Buat fakir miskin kesengsaraan ini dijalani sepanjang hayatnya. Melalui cara ini, mata batin kita akan peka, naluri ingin menolong akan semakin sensitif dan kepedulian kita kepada semua manusia akan semakin baik.

Dapat dikatakan bahwa puasa merupakan suatu ibadah guna menguasai nafsu kedagingan. Mengapa dikatakan ibadah? Karena di dalamnya terkandung relasi yg intim antara orang yang berpuasa dengan Allah, maka pelaksanaannya tidaklah dapat dipaksakan.

Menurut mang Ucup, puasa harus disertai dengan ketulusan hati; sebagai bagian dari ibadah kita kepada Tuhan. Puasa adalah panggilan, bukan kewajiban. Karena itu puasa harus dilakukan dengan sukacita bukan karena terpaksa.

Namun permasalahannya adalah, jika puasa itu adalah ibadah apakah puasa perlu dilegalkan atau diwajibkan dalam hukum agama? Jika demikian kenyataannya, berarti relasi manusia dengan Allah adalah sesuatu yang dapat (bahkan harus) dipaksakan.

Perlu disadari bahwa penebusan Yesus di atas kayu salib telah menggenapi Hukum Taurat (PL) yang bergantung pada usaha manusia menyelamatkan diri sendiri dengan melakukan hukum agama secara ketat (sunat, korban, sabat, puasa, halal-haram dll), menjadi kasih karunia Allah yang diberikan kepada setiap orang yang percaya dan bertobat (Yoh. 3:16; Ef. 2:8-10).

Maranatha
Mang Ucup – The Drunken Priest
Email: mang.ucup@gmail.com
Homepage: www.mangucup.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar