01 September 2009

Renungan - Ketetapan Hati Seorang John Calvin

Pergumulan dengan Tuhan melalui keluarga dan sahabat

Yohanes Calvin adalah seorang yang visioner dan fokus, betul - betul mengasihi Tuhan dan memberikan pengabdian tuntas untuk memberikan yang terbaik. Demikian dalam memilih pasangan hidup.

Berikut adalah standar yang ditentukan Calvin untuk calon istrinya.
"The only kind of beauty which can win my soul is a woman who is chaste (bersih), not fastidious (tidak menuntut/ cerewet), economical (sederhana), patient (sabar), and who is likely to interest herself in my health ( memperhatikan kesehatanku)."

Terlihat sulit ya, apalagi di jaman sekarang. Tapi itu baru standar dari seorang Yohanes Calvin, belum standar dari Alkitab sendiri ( baca Amsal 31: 10-31), maka bisa2 semua pria tidak menikah. Tentu saja Alkitab tidak bermaksud ingin membuat setiap pria tidak menikah, ayat2 tersebut dimaksudkan agar setiap wanita sungguh-sungguh mengusahakan diri untuk menjadi perempuan yang sejati. Dan jadi standar bagi kaum wanita dalam mempertimbangkan pasangannya. Ditengah segala keterbatasan dan kelemahan tetap ada batas toleransi yang Tuhan ijinkan dimana pasangan laki - laki dan perempuan itu saling melengkapi.

Lalu bagaimana dengan Calvin? Siapakah wanita yang membuatnya jatuh cinta?

Idelette de Bure of Guelderland adalah janda dari John Storder dari Liege. Pada tahun 1530, Idelette dan suaminya mengungsi ke Strasburg karena penganiayaan atas Injil yang mereka percaya. Pada tahun 1538, Calvin memulai pelayanannya di Strasburg dan kemudian menjadi dekat dengan John Storder dan Idelette. 2 tahun kemudian, John meninggal karena wabah penyakit yang menyebar saat itu dan Idelette menjadi janda. Akhirnya, berkat jasa Martin Bucer, Idelette dapat muncul di kepala Calvin yang super sibuk dan akhirnya Calvin pun menyadari keindahan dalam diri Idelette. Dia lalu menikah dengan Idelette.

Setelah menikah, Calvin dikaruniai 3 anak, tapi sayang sekali semua anak Calvin meninggal ketika bayi. Di masa sulit itu, Calvin pun masih harus menghadapi tuduhan dari gereja Katolik,

"He married Idelette, writes one, 'by whom he had no children, though she was in the prime of life, that the name of this infamous man might not be propagated."

Dalam suratnya kepada sahabatnya, Peter Viret, Calvin mencurahkan perasaannya tentang anaknya.

"This brother, the bearer, will tell you in what anguish I now write to you. My wife has been delivered prematurely, not without extreme danger. My Lord look down upon us in mercy."

Dan kemudian anaknya meninggal, Calvin kembali menulis surat kepada sahabatnya.

"...The Lord has certainly inflicted a severe and bitter wound by the death of our infant son. But He is himself a Father and knows what is necessary for his children."

Dia tidak menyalahkan Tuhan atas penderitaannya, bahkan dengan penuh keyakinan Calvin tetap memanggil Tuhan itu Bapa. Pernikahannya dengan Idelette pun relatif singkat. 9 tahun setelah menikah, Idelette dipanggil Tuhan.

Inilah percakapannya dengan Idelette menjelang kematian sang istri tercinta.

Idelette :"I have already commended them to the Lord." ( tentang 2 anaknya dari pernikahan sebelumnya)
Calvin :"That will not prevent me from caring for them."
Idelette :"I am sure you will not neglect the children whom you know to be commended to the Lord."
Calvin :"This greatness of soul will influence me more powerfully than a hundred commendations would have done."

Sampai akhir hayatnya, Calvin tetap bekerja keras dan fokus menunaikan tugasnya dengan penuh pengharapan, dan tidak pernah menikah lagi.

sumber : diringkas dari PILLAR ( bulletin Pemuda Gereja Reformed Injili Indonesia)
www.buletinpillar.org

www.cerita-kristen.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar